Rabu, 20 Januari 2010

Yogi Sedunia Datang untuk Dukung Isu Pemanasan Global


Ratusan yogi (orang yang mahir tentang yoga; ahli/guru yoga) dari berbagai negara di belahan dunia yang ikut dalam Yoga Festival Internasional di Bali akan memberikan sumbangan pemikiran dalam menghadapi pemanasan global.

"Para yogi yang datang dari India, Eropa, Amerika Serikat dan negara-negara di kawasan Asia akan memberikan solusi, apa yang harus dilakukan umat manusia menghadapi pemanasan global tersebut," kata Ketua Bali-India Foundation Dr Somvir di Denpasar Minggu.

Para yogi juga dengan cara masing-masing akan melakukan usaha yang maksimal agar pemanasan global tidak berakibat fatal.

International Bali-India Yoga Festival akan digelar di Pulau Dewata, 3-10 Maret 2010 melibatkan sekitar 1.500 yogi dari mancanegara.

Kegiatan bertaraf internasional yang kedua kali ini, salah satu di antaranya diskusi para yogi dan para ahli mencari solusi menghadapi pemanasan global.

Kegiatan tersebut akan digelar di Banjar Gunung Sari, Desa Tegal Linggah, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali utara, 80 km utara Denpasar.

"Umat manusia selama ini menghormati ibu pertiwi (tanah). Untuk itu wajib dan menjadi tanggung jawab untuk menjaga kelestarian lingkungan, melakukan gerakan penghijauan dan menghindari pembangunan gedung-gedung bertingkat," kata Somvir.

Setiap jengkal tanah harus ditanami yang mampu memberikan manfaat bagi kehidupan umat manusia, maupun menyelamatkan dunia beserta isinya.

"Kawasan hutan yang lestari dalam batasan yang ideal akan mampu mencegah terjadi banjir, tanah longsor maupun kekeringan," ujar Dr Somvir.(*)

Tanaman dan Hewan juga Berlomba Hadapi Perubahan Iklim


Ekosistem daratan harus bergerak ratusan meter setiap tahun guna menghadapi pemanasan global, demikian isi surat yang disiarkan di Nature, suatu jurnal sains yang berpusat di Inggris, Kamis.

Rata-rata, ekosistem akan memerlukan perubahan 420 meter --sekitar seperempat mil-- per tahun ke daerah yang lebih dingin pada abad ini, jika semua spesies yang mendiami wilayah tersebut ingin tetap berada di zona nyaman mereka, demikian keyakinan beberapa ilmuwan AS.

Ekosistem yang datar seperti hutan bakau, tanah basah dan gurun menghadapi tantangan yang paling besar, karena semua itu harus bergeser lebih jauh lagi agar dapat bertahan hidup.

Habitat pegunungan agak lebih beruntung, karena hanya sedikit perubahan ketinggian memberi udara sejuk.

Jumlah tersebut dilandasi atas skenario "A1B" bagi kemungkinan buangan karbon abad ini, sebagaimana diramalkan oleh Panel Antar-pemerintah mengenai Perubahan Iklim (IPCC). Jumlah itu dipandang sebagai tingkat menengah pemanasan.

Perubahan iklim akan berdampak paling lambat di hutan cemara tropis dan sub-tropis, temperatur hutan cemara yang berudara sedang, apa yang disebut tanah rumput gunung dan dataran bersemak, kata para ilmuwan itu.

Gurun, hutan bakau, tanah rumput, dan padang rumput akan menghadapi pukulan paling cepat.

Surat tersebut menyatakan perjuangan tanpa kenal ampun makhluk di dalam teori Darwin akan terjadi.

Sebagian spesies kasar mungkin mampu menyesuaikan diri dengan temperatur dan mengubah tempat tinggal mereka. Spesies lain yang dapat pindah ke tempat lain tepat pada waktunya juga akan selamat.

Namun semus spesies yang tak dapat menyesuaikan diri --atau yang hanya dapat bergerak lamban, seperti tanaman-- takkan memiliki tempat untuk pergi dan dapat menghadapi kepunahan.

"Proyeksi perubahan iklim, yang disebut velositi, terhubung secara langsung dengan prospek kelangsungan hidup bagi tanaman dan hewan. Ini adalah keadaan yang akan menetapkan panggung, apakah spesies berpindah atau bediam di tempat tinggal mereka," kata penulis bersama Chris Field, Direktur Department of Global Ecology, Carnegi Institution.

Studi tersebut menyatakan bahwa daerah yang dilindungi seperti suaga alam biasanya terlalu kecil untuk menangani perubahan habitat yang diperkirakan.

Kurang dari 10 persen daerah yang dilindungi secara global akan mempertahankan kondisi iklim saat ini di dalam perbatasan mereka satu abad dari sekarang, studi tersebut memperingatkan.

Berdasarkan skenario A1B, perkiraan terbaik panel ilmuwan cuaca peraih Nobel PBB meramalkan kenaikan temperatur abad ini sebanyak 2,8 derajat celsius, dalam rentang 1,7-4,4 derajat celsius.

Satu kelompok pemimpin dunia, dalam pertemuan puncak cuaca Kopenhagen, Jumat lalu, menetapkan sasaran pemanasan terbatas sebanyak dua derajat celsius, tapi tidak secara jelas mengatakan apakah sasaran tersebut adalah sejak masa indsutri atau melewati jalur abad ini.

Telah terjadi pemanasan sebanyak 0,7 derajat celsius, sejak awal Revolusi Industri pertengahan abad 18, ketika pembakaran batu-bara, minyak dan gas memulai fenomena gas rumah kaca.(*)

Elnino di Jateng Januari-Februari Melemah


Kekuatan Elnino selama Januari-Februari 2010 di wilayah Jawa Tengah melemah sehingga berpengaruh terhadap peningkatan curah dan intensitas hujan.

Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Stasiun Klimatologi Semarang, Evi Lutfiati, di Semarang Selasa mengatakan, saat ini dampak Elnino sudah dilewati.

Akibatnya, katanya, curah hujan di beberapa daerah bisa berkisar antara 200 hingga 800 milimeter setiap bulan.

Ia mengatakan, curah hujan di Kabupaten Banjarnegara antara 400 hingga 800 milimeter, Semarang bagian Pantai Utara 300 hingga 400 milimeter, Jateng bagian selatan 400 hingga 500 milimeter sedangkan di bagian timur 200 hingga 300 milimeter.

"Kota Semarang beberapa hari yang lalu, dalam waktu sehari, bisa mencapai 100 milimeter seperti di Ngaliyan yang curah hujannya 135 milimeter dan kawasan Bandara Ahmad Yani mencapai 100 milimeter. Kalau rintik-rintik, tidak bahaya, yang mengkhawatirkan terjadi banjir jika hujan dengan durasi pendek dan lebat," katanya.

Ia menjelaskan, Elnino terjadi jika muncul penyimpangan suhu muka laut di Pasifik ekuator bagian tengah dan timur.

Akibatnya, katanya, sirkulasi uap air di wilayah Indonesia dan Jawa Tengah, terpusat ke daerah tersebut.

Ia menjelaskan, jika suhu laut lebih dari dua persen, hal itu masuk kategori Elnino moderat sedangkan suhu laut lebih dari dua derajat, masuk kategori kuat.

Elnino, katanya, menyebabkan musim hujan mundur dan bahkan ada daerah yang terlambat memasuki musim hujan hingga lebih dari satu bulan.

"Akhir Juli 2009, Jateng sudah ada Elnino dan intensitasnya menguat menjadi moderat pada Oktober hingga Desember 2009 karena suhu laut berada pada 1,8 derajat. Pada Januari, Elnino melemah sehingga curah hujan terus meningkat," katanya.

Ia mengimbau, masyarakat terus waspada terhadap dampak ancaman cuaca ekstrim seperti hujan lebat, angin kencang, petir dan badai tropis di Samudera Indonesia bagian barat dan Laut Australia.

"Cuaca ekstrim juga dipengaruhi oleh angin barat selama Januari hingga Februari, sehingga harus selalu waspada," katanya.

Ia mengatakan, tinggi gelombang laut diprediksi 1 hingga 5 meter terjadi antara Tanggal 13 hingga 18 Januari 2010.

"Meskipun sudah mereda, tidak menutup kemungkinan bisa kembali menguat karena pengaruh angin barat," katanya.

Selasa, 19 Januari 2010

Walhi Berharap Pembangunan WFC Perhatikan Aspek Lingkungan


Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Lampung berharap pembangunan Water Front City (WFC) di kawasan Pesisir Bandarlampung tetap memperhatikan aspek kelestarian lingkungan.

"Kami tetap meminta ada kajian analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) terpadu, yang memuat perencanaan pembangunan keseluruhan WFC yang sepanjang 30-an kilometer itu, untuk menjadi jaminan tidak adanya perusakan alam selama proses pembangunan tersebut," kata Direktur Eksekutif Walhi Lampung, Hendrawan, di Bandarlampung, Selasa malam.

Dia menegaskan, hingga kini pihak pengembang bersama Pemerintah Kota Bandarlampung belum merealisasikan amdal terpadu tersebut, sementara pembangunan WFC sudah berjalan.

"Sebagai anggota Komisi Amdal Kota Bandarlampung, kami tetap meminta pemerintah membuat amdal terpadu yang meliputi penataan pesisir secara keseluruhan, bukan amdal parsial yang hanya meliputi tempat tertentu," kata dia.

Hendrawan melanjutkan, amdal yang dibuat pengembang dan diserahkan Pemkot Bandarlampung kepada komisi amdal selama ini adalah amdal parsial yang hanya meliputi pembangunan wilayah pintu masuk, dengan panjang wilayah pesisir yang dibangun sepanjang dua kilometer.

"Amdal parsial tersebut masih cacat, banyak yang perlu direvisi," kata dia.

Hingga kini, dia melanjutkan, sebagai bagian dari komisi amdal, Walhi belum menerima salinan revisi tersebut, namun dia membaca di media massa bahwa hasil final lembaran amdal tersebut sudah diserahkan kepada Wali Kota Bandarlampung pada 7 Desember 2009 lalu.

"Kami berharap pemkot dapat bertindak bijak dalam hal ini, jangan sampai pembangunan WFC itu justru berdampak buruk bagi keseimbangan alam Bandarlampung ke depan," kata dia.

Walhi tetap menekankan agar pembangunan di kawasan WFC ditunda, sebelum amdal terpadu tersebut selesai, karena berkaitan dengan langkah pembangunan yang berpedoman pada kelestarian lingkungan.(*)

Sutikno Serahkan Hewan Langka ke Gembira Loka


Temanggung (ANTARA News) - Sutikno (51), warga Mekarsari, Desa Mandisari, Kecamatan Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, akan menyerahkan binatang langka piaraannya uwak-uwak (simpanse) ke Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta.

"Kami sudah menghubungi pihak Gembira Loka dan pada minggu-minggu ini akan mengambil binatang piaraan kami," kata Sutikno di Temanggung, Sabtu.

Ia mengatakan, binatang piaraannya itu telah dipelihara sejak lima tahun lalu setelah dibeli dari seorang yang pulang dari Kalimantan seharga Rp250 ribu.

"Waktu kami beli uwak-uwak itu masih bayi dan kami harus memberi susu dengan botol dot sekitar empat bulan," katanya.

Menurutnya, keinginan menyerahkan binatang langka piaraannya it karena kasihan kepadanya. Binatang itu sudah dewasa sehingga di kebun binatang dia bisa mendapatkan pasangannya.

"Sebenarnya ada orang yang ingin membelinya, tetapi kami tidak membolehkannya karena kami khawatir nanti tidak bisa merawatnya dengan baik. Kami lebih yakin kalau diserahkan ke bunbin (kebun binatang) akan terawat dengan baik," katanya.

Ia menuturkan, binatang piaraannya itu sudah seperti keluarga. "Bahkan waktu bangun pagi, kami belum makan, binatang itu sudah kami berikan makan dulu dan waktu sakit kami juga mengundang dokter hewan untuk memeriksanya," katanya.

Istri Sutikno, Atik Sulasti (45) mengatakan, binatang itu makanan pokoknya adalah buah-buahan, tetapi diberi makanan apa saja mau, seperti nasi atau roti.

Menurutnya, hewan itu rutin dimandikan dengan sabun kemudian dikeringkan dengan alat pengering rambut.

"Dalam pekan ini mungkin petugas dari Bunbin Gembira Loka akan mengambilnya. Sebenarnya kami ingin mengantarkannya sendiri ke Gembira Loka, tetapi petugas menyarankan akan mengambilnya sendiri agar kami tidak terkena pungutan di jalan," katanya.

Ia mengatakan, setelah mendapat kabar bakal menyerahkan uwak-uwak-nya, Gembira Loka menyatakan akan membuatkan kandangnya dulu dan juga mempersiapkan surat-surat yang diperlukan.(*)

LIPI Rencanakan Konservasi Kepulauan Lucipara Untuk Pariwisata



Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ambon merencanakan konservasi bagi kepulauan Lucipara, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), untuk menjadi daerah pariwisata bahari di Maluku.

Seorang peneliti LIPI Ambon, Abdul Wahab Radjab, saat dikonfirmasi ANTARA, di Ambon, Minggu, membenarkan sedang merencanakan program konservasi tersebut.

"Kami sedang merencanakan program konservasi terhadap Kepulauan Lucipara agar bisa dijadikan daerah tujuan wisata bahari, terutama untuk kegiatan menyelam," katanya.

Ia menjelaskan, LIPI menjadwalkan memulai program konservasi itu pada Oktober 2010, tetapi jika cuaca sudah mulai membaik program tersebut bisa dipercepat Maret mendatang.

"Kami akan melakukan penyelaman, makanya harus menunggu laut tenang yang biasanya berkisar Oktober 2010. Tapi kalau cuaca sudah membaik pada Maret mendatang, konservasi segera dilaksanakan," ujarnya.

Radjab mengatakan, mereka tidak hanya akan mengadakan konservasi bagi gugusan kepulauan Lucipara yang terdiri dari 7 pulau tak berpenghuni, tetapi LIPI Ambon juga akan merehabilitasi pulau itu apabila terdapat kerusakan terhadap ekosistemnya.

"Selain mengadakan konservasi, kami juga akan melakukan program rehabilitasi apabila ada kerusakan pada ekosistemnya, karena Lucipara merupakan pulau yang tidak berpenghuni," ujarnya.

Menurutnya, Lucipara yang terletak di tengah-tengah laut Banda atau 200 kilometer selatan pulau Ambon itu memiliki potensi bahari alami yang dapat memancing para wisatawan untuk berkunjung, karena selain dilingkari pasir putih untuk habitat penyu bertelur, juga terdapat panorama bawah laut yang indah dengan warna-warni koral (bunga karang) dan ikan-ikannya.

"Lucipara sangat eksotis karena potensi wisata baharinya masih asri," ucapnya.

Ia menambahkan, LIPI akan bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Maluku untuk program pengembangan dan pengelolaan Kepulauan yang bisa ditempuh selama 6 jam dengan kapal berkecepatan 25-30 knot dari desa Latuhalat, kecamatan Nusaniwe, kota Ambon.

"Kami akan bekerjasama dengan Disbudpar Maluku untuk program pengembangan dan pengelolaan kepulauan Lucipara menjadi daerah tujuan primadona penyelaman," katanya.(*)

Presiden Tanam Pohon di Madiun


Bertempat di pinggir Waduk Bening Widas, Madiun Jawa Timur, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Selasa(12 Januari 2010) menanam pohon trembesi sebagai upaya pelestarian lingkungan hidup.

Presiden yang didampingi Ibu Ani Yudhoyono juga menebar sekitar 150.000 benih ikan nila di waduk yang dibangun tahun 1980 itu.

Selain Ibu Negara yang menanam pohon sukun, sejumlah menteri juga turut menanam pohon seperti Menko Polhukam Djoko Suyanto, Mentan Suswono, Meneg LH Gusti Muhammad Hatta, Menhut Zulkifli Hassan dan Mendagri Gamawan Fauzi.

Di sekitar waduk itu akan ditanam 3.500 pohon, yang merupakan bagian dari sekitar 3,5 juta pohon yang akan ditanam di seluruh Jawa Timur.

Dalam kesempatan itu, Ibu Yudhoyono memberikan bantuan makanan pendamping ASI sebanyak 5 ton, dan timbangan bayi 100 buah.

Sementara Presiden memberikan bantuan 30 unit traktor tangan, 5 ton padi hibrida, 25 ton pupuk NPK, 90 ton pupuk organik, lima batang pohon Muni, bibit pohon jati dan sukun.

Dalam acara itu, Presiden sempat berdialog dengan masyarakat.

Sanimin, petani kecil asal Desa Jesoren mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih terhadap program-program yang telah dijalankan pemerintah selama ini.

"Kehadiran bapak, menambah semangat masyarakat Madiun untuk mendukung kemajuan masyarakat seperti dengan pelaksanaan program PNPMNP. Kami sangat beruntung karena butuh rabuk, pengolah tanah dan obat-obatan yang kami dapat dari PNPM," kata Sanimin yang disampaikan dalam bahasa Jawa.

Presiden menanggapi hal itu mengatakan bahwa kegiatan penanaman pohon dan menebar benih ikan, juga terkait dengan upaya peningkatan kesejahteraan rakyat.

"Kami datang untuk memastikan bahwa program-program pro rakyat dilakukan dan ditingkatkan. Pemerintah akan terus bekerja siang malam yang betul-betul makin meningkatkan sejahtera rakyat di bidang pangan, pendidikan, kesehatan dan infrastruktur," katanya..

Kota Madiun tampak berbenah menghadapi kehadiran Presiden Yudhoyono dan rombongan yang akan berada di kota itu selama dua hari.

Sepanjang jalan yang akan dilalui Presiden, deretan spanduk, bendera dan umbul-umbul menghiasi pinggir jalan. Semua pembatas jalan dan trotoar juga dicat biru dan putih.

Hal serupa terlihat di lokasi acara penanaman pohon, warna biru mencuat di tengah hijaunya pepohonan. Tenda, dermaga bahkan batang pohon juga dicat biru.

Sepanjang jalan antara Lanud Iswahyudi tempat pesawat Presiden mendarat dengan lokasi waduk yang berjarak sekitar 30 km juga dipenuhi murid-murid sekolah TK sampai SMA yang berderet-deret melambaikan bendera merah putih kecil. (*)