Rabu, 20 Januari 2010

Yogi Sedunia Datang untuk Dukung Isu Pemanasan Global


Ratusan yogi (orang yang mahir tentang yoga; ahli/guru yoga) dari berbagai negara di belahan dunia yang ikut dalam Yoga Festival Internasional di Bali akan memberikan sumbangan pemikiran dalam menghadapi pemanasan global.

"Para yogi yang datang dari India, Eropa, Amerika Serikat dan negara-negara di kawasan Asia akan memberikan solusi, apa yang harus dilakukan umat manusia menghadapi pemanasan global tersebut," kata Ketua Bali-India Foundation Dr Somvir di Denpasar Minggu.

Para yogi juga dengan cara masing-masing akan melakukan usaha yang maksimal agar pemanasan global tidak berakibat fatal.

International Bali-India Yoga Festival akan digelar di Pulau Dewata, 3-10 Maret 2010 melibatkan sekitar 1.500 yogi dari mancanegara.

Kegiatan bertaraf internasional yang kedua kali ini, salah satu di antaranya diskusi para yogi dan para ahli mencari solusi menghadapi pemanasan global.

Kegiatan tersebut akan digelar di Banjar Gunung Sari, Desa Tegal Linggah, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali utara, 80 km utara Denpasar.

"Umat manusia selama ini menghormati ibu pertiwi (tanah). Untuk itu wajib dan menjadi tanggung jawab untuk menjaga kelestarian lingkungan, melakukan gerakan penghijauan dan menghindari pembangunan gedung-gedung bertingkat," kata Somvir.

Setiap jengkal tanah harus ditanami yang mampu memberikan manfaat bagi kehidupan umat manusia, maupun menyelamatkan dunia beserta isinya.

"Kawasan hutan yang lestari dalam batasan yang ideal akan mampu mencegah terjadi banjir, tanah longsor maupun kekeringan," ujar Dr Somvir.(*)

Tanaman dan Hewan juga Berlomba Hadapi Perubahan Iklim


Ekosistem daratan harus bergerak ratusan meter setiap tahun guna menghadapi pemanasan global, demikian isi surat yang disiarkan di Nature, suatu jurnal sains yang berpusat di Inggris, Kamis.

Rata-rata, ekosistem akan memerlukan perubahan 420 meter --sekitar seperempat mil-- per tahun ke daerah yang lebih dingin pada abad ini, jika semua spesies yang mendiami wilayah tersebut ingin tetap berada di zona nyaman mereka, demikian keyakinan beberapa ilmuwan AS.

Ekosistem yang datar seperti hutan bakau, tanah basah dan gurun menghadapi tantangan yang paling besar, karena semua itu harus bergeser lebih jauh lagi agar dapat bertahan hidup.

Habitat pegunungan agak lebih beruntung, karena hanya sedikit perubahan ketinggian memberi udara sejuk.

Jumlah tersebut dilandasi atas skenario "A1B" bagi kemungkinan buangan karbon abad ini, sebagaimana diramalkan oleh Panel Antar-pemerintah mengenai Perubahan Iklim (IPCC). Jumlah itu dipandang sebagai tingkat menengah pemanasan.

Perubahan iklim akan berdampak paling lambat di hutan cemara tropis dan sub-tropis, temperatur hutan cemara yang berudara sedang, apa yang disebut tanah rumput gunung dan dataran bersemak, kata para ilmuwan itu.

Gurun, hutan bakau, tanah rumput, dan padang rumput akan menghadapi pukulan paling cepat.

Surat tersebut menyatakan perjuangan tanpa kenal ampun makhluk di dalam teori Darwin akan terjadi.

Sebagian spesies kasar mungkin mampu menyesuaikan diri dengan temperatur dan mengubah tempat tinggal mereka. Spesies lain yang dapat pindah ke tempat lain tepat pada waktunya juga akan selamat.

Namun semus spesies yang tak dapat menyesuaikan diri --atau yang hanya dapat bergerak lamban, seperti tanaman-- takkan memiliki tempat untuk pergi dan dapat menghadapi kepunahan.

"Proyeksi perubahan iklim, yang disebut velositi, terhubung secara langsung dengan prospek kelangsungan hidup bagi tanaman dan hewan. Ini adalah keadaan yang akan menetapkan panggung, apakah spesies berpindah atau bediam di tempat tinggal mereka," kata penulis bersama Chris Field, Direktur Department of Global Ecology, Carnegi Institution.

Studi tersebut menyatakan bahwa daerah yang dilindungi seperti suaga alam biasanya terlalu kecil untuk menangani perubahan habitat yang diperkirakan.

Kurang dari 10 persen daerah yang dilindungi secara global akan mempertahankan kondisi iklim saat ini di dalam perbatasan mereka satu abad dari sekarang, studi tersebut memperingatkan.

Berdasarkan skenario A1B, perkiraan terbaik panel ilmuwan cuaca peraih Nobel PBB meramalkan kenaikan temperatur abad ini sebanyak 2,8 derajat celsius, dalam rentang 1,7-4,4 derajat celsius.

Satu kelompok pemimpin dunia, dalam pertemuan puncak cuaca Kopenhagen, Jumat lalu, menetapkan sasaran pemanasan terbatas sebanyak dua derajat celsius, tapi tidak secara jelas mengatakan apakah sasaran tersebut adalah sejak masa indsutri atau melewati jalur abad ini.

Telah terjadi pemanasan sebanyak 0,7 derajat celsius, sejak awal Revolusi Industri pertengahan abad 18, ketika pembakaran batu-bara, minyak dan gas memulai fenomena gas rumah kaca.(*)

Elnino di Jateng Januari-Februari Melemah


Kekuatan Elnino selama Januari-Februari 2010 di wilayah Jawa Tengah melemah sehingga berpengaruh terhadap peningkatan curah dan intensitas hujan.

Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Stasiun Klimatologi Semarang, Evi Lutfiati, di Semarang Selasa mengatakan, saat ini dampak Elnino sudah dilewati.

Akibatnya, katanya, curah hujan di beberapa daerah bisa berkisar antara 200 hingga 800 milimeter setiap bulan.

Ia mengatakan, curah hujan di Kabupaten Banjarnegara antara 400 hingga 800 milimeter, Semarang bagian Pantai Utara 300 hingga 400 milimeter, Jateng bagian selatan 400 hingga 500 milimeter sedangkan di bagian timur 200 hingga 300 milimeter.

"Kota Semarang beberapa hari yang lalu, dalam waktu sehari, bisa mencapai 100 milimeter seperti di Ngaliyan yang curah hujannya 135 milimeter dan kawasan Bandara Ahmad Yani mencapai 100 milimeter. Kalau rintik-rintik, tidak bahaya, yang mengkhawatirkan terjadi banjir jika hujan dengan durasi pendek dan lebat," katanya.

Ia menjelaskan, Elnino terjadi jika muncul penyimpangan suhu muka laut di Pasifik ekuator bagian tengah dan timur.

Akibatnya, katanya, sirkulasi uap air di wilayah Indonesia dan Jawa Tengah, terpusat ke daerah tersebut.

Ia menjelaskan, jika suhu laut lebih dari dua persen, hal itu masuk kategori Elnino moderat sedangkan suhu laut lebih dari dua derajat, masuk kategori kuat.

Elnino, katanya, menyebabkan musim hujan mundur dan bahkan ada daerah yang terlambat memasuki musim hujan hingga lebih dari satu bulan.

"Akhir Juli 2009, Jateng sudah ada Elnino dan intensitasnya menguat menjadi moderat pada Oktober hingga Desember 2009 karena suhu laut berada pada 1,8 derajat. Pada Januari, Elnino melemah sehingga curah hujan terus meningkat," katanya.

Ia mengimbau, masyarakat terus waspada terhadap dampak ancaman cuaca ekstrim seperti hujan lebat, angin kencang, petir dan badai tropis di Samudera Indonesia bagian barat dan Laut Australia.

"Cuaca ekstrim juga dipengaruhi oleh angin barat selama Januari hingga Februari, sehingga harus selalu waspada," katanya.

Ia mengatakan, tinggi gelombang laut diprediksi 1 hingga 5 meter terjadi antara Tanggal 13 hingga 18 Januari 2010.

"Meskipun sudah mereda, tidak menutup kemungkinan bisa kembali menguat karena pengaruh angin barat," katanya.

Selasa, 19 Januari 2010

Walhi Berharap Pembangunan WFC Perhatikan Aspek Lingkungan


Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Lampung berharap pembangunan Water Front City (WFC) di kawasan Pesisir Bandarlampung tetap memperhatikan aspek kelestarian lingkungan.

"Kami tetap meminta ada kajian analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) terpadu, yang memuat perencanaan pembangunan keseluruhan WFC yang sepanjang 30-an kilometer itu, untuk menjadi jaminan tidak adanya perusakan alam selama proses pembangunan tersebut," kata Direktur Eksekutif Walhi Lampung, Hendrawan, di Bandarlampung, Selasa malam.

Dia menegaskan, hingga kini pihak pengembang bersama Pemerintah Kota Bandarlampung belum merealisasikan amdal terpadu tersebut, sementara pembangunan WFC sudah berjalan.

"Sebagai anggota Komisi Amdal Kota Bandarlampung, kami tetap meminta pemerintah membuat amdal terpadu yang meliputi penataan pesisir secara keseluruhan, bukan amdal parsial yang hanya meliputi tempat tertentu," kata dia.

Hendrawan melanjutkan, amdal yang dibuat pengembang dan diserahkan Pemkot Bandarlampung kepada komisi amdal selama ini adalah amdal parsial yang hanya meliputi pembangunan wilayah pintu masuk, dengan panjang wilayah pesisir yang dibangun sepanjang dua kilometer.

"Amdal parsial tersebut masih cacat, banyak yang perlu direvisi," kata dia.

Hingga kini, dia melanjutkan, sebagai bagian dari komisi amdal, Walhi belum menerima salinan revisi tersebut, namun dia membaca di media massa bahwa hasil final lembaran amdal tersebut sudah diserahkan kepada Wali Kota Bandarlampung pada 7 Desember 2009 lalu.

"Kami berharap pemkot dapat bertindak bijak dalam hal ini, jangan sampai pembangunan WFC itu justru berdampak buruk bagi keseimbangan alam Bandarlampung ke depan," kata dia.

Walhi tetap menekankan agar pembangunan di kawasan WFC ditunda, sebelum amdal terpadu tersebut selesai, karena berkaitan dengan langkah pembangunan yang berpedoman pada kelestarian lingkungan.(*)

Sutikno Serahkan Hewan Langka ke Gembira Loka


Temanggung (ANTARA News) - Sutikno (51), warga Mekarsari, Desa Mandisari, Kecamatan Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, akan menyerahkan binatang langka piaraannya uwak-uwak (simpanse) ke Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta.

"Kami sudah menghubungi pihak Gembira Loka dan pada minggu-minggu ini akan mengambil binatang piaraan kami," kata Sutikno di Temanggung, Sabtu.

Ia mengatakan, binatang piaraannya itu telah dipelihara sejak lima tahun lalu setelah dibeli dari seorang yang pulang dari Kalimantan seharga Rp250 ribu.

"Waktu kami beli uwak-uwak itu masih bayi dan kami harus memberi susu dengan botol dot sekitar empat bulan," katanya.

Menurutnya, keinginan menyerahkan binatang langka piaraannya it karena kasihan kepadanya. Binatang itu sudah dewasa sehingga di kebun binatang dia bisa mendapatkan pasangannya.

"Sebenarnya ada orang yang ingin membelinya, tetapi kami tidak membolehkannya karena kami khawatir nanti tidak bisa merawatnya dengan baik. Kami lebih yakin kalau diserahkan ke bunbin (kebun binatang) akan terawat dengan baik," katanya.

Ia menuturkan, binatang piaraannya itu sudah seperti keluarga. "Bahkan waktu bangun pagi, kami belum makan, binatang itu sudah kami berikan makan dulu dan waktu sakit kami juga mengundang dokter hewan untuk memeriksanya," katanya.

Istri Sutikno, Atik Sulasti (45) mengatakan, binatang itu makanan pokoknya adalah buah-buahan, tetapi diberi makanan apa saja mau, seperti nasi atau roti.

Menurutnya, hewan itu rutin dimandikan dengan sabun kemudian dikeringkan dengan alat pengering rambut.

"Dalam pekan ini mungkin petugas dari Bunbin Gembira Loka akan mengambilnya. Sebenarnya kami ingin mengantarkannya sendiri ke Gembira Loka, tetapi petugas menyarankan akan mengambilnya sendiri agar kami tidak terkena pungutan di jalan," katanya.

Ia mengatakan, setelah mendapat kabar bakal menyerahkan uwak-uwak-nya, Gembira Loka menyatakan akan membuatkan kandangnya dulu dan juga mempersiapkan surat-surat yang diperlukan.(*)

LIPI Rencanakan Konservasi Kepulauan Lucipara Untuk Pariwisata



Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ambon merencanakan konservasi bagi kepulauan Lucipara, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), untuk menjadi daerah pariwisata bahari di Maluku.

Seorang peneliti LIPI Ambon, Abdul Wahab Radjab, saat dikonfirmasi ANTARA, di Ambon, Minggu, membenarkan sedang merencanakan program konservasi tersebut.

"Kami sedang merencanakan program konservasi terhadap Kepulauan Lucipara agar bisa dijadikan daerah tujuan wisata bahari, terutama untuk kegiatan menyelam," katanya.

Ia menjelaskan, LIPI menjadwalkan memulai program konservasi itu pada Oktober 2010, tetapi jika cuaca sudah mulai membaik program tersebut bisa dipercepat Maret mendatang.

"Kami akan melakukan penyelaman, makanya harus menunggu laut tenang yang biasanya berkisar Oktober 2010. Tapi kalau cuaca sudah membaik pada Maret mendatang, konservasi segera dilaksanakan," ujarnya.

Radjab mengatakan, mereka tidak hanya akan mengadakan konservasi bagi gugusan kepulauan Lucipara yang terdiri dari 7 pulau tak berpenghuni, tetapi LIPI Ambon juga akan merehabilitasi pulau itu apabila terdapat kerusakan terhadap ekosistemnya.

"Selain mengadakan konservasi, kami juga akan melakukan program rehabilitasi apabila ada kerusakan pada ekosistemnya, karena Lucipara merupakan pulau yang tidak berpenghuni," ujarnya.

Menurutnya, Lucipara yang terletak di tengah-tengah laut Banda atau 200 kilometer selatan pulau Ambon itu memiliki potensi bahari alami yang dapat memancing para wisatawan untuk berkunjung, karena selain dilingkari pasir putih untuk habitat penyu bertelur, juga terdapat panorama bawah laut yang indah dengan warna-warni koral (bunga karang) dan ikan-ikannya.

"Lucipara sangat eksotis karena potensi wisata baharinya masih asri," ucapnya.

Ia menambahkan, LIPI akan bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Maluku untuk program pengembangan dan pengelolaan Kepulauan yang bisa ditempuh selama 6 jam dengan kapal berkecepatan 25-30 knot dari desa Latuhalat, kecamatan Nusaniwe, kota Ambon.

"Kami akan bekerjasama dengan Disbudpar Maluku untuk program pengembangan dan pengelolaan kepulauan Lucipara menjadi daerah tujuan primadona penyelaman," katanya.(*)

Presiden Tanam Pohon di Madiun


Bertempat di pinggir Waduk Bening Widas, Madiun Jawa Timur, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Selasa(12 Januari 2010) menanam pohon trembesi sebagai upaya pelestarian lingkungan hidup.

Presiden yang didampingi Ibu Ani Yudhoyono juga menebar sekitar 150.000 benih ikan nila di waduk yang dibangun tahun 1980 itu.

Selain Ibu Negara yang menanam pohon sukun, sejumlah menteri juga turut menanam pohon seperti Menko Polhukam Djoko Suyanto, Mentan Suswono, Meneg LH Gusti Muhammad Hatta, Menhut Zulkifli Hassan dan Mendagri Gamawan Fauzi.

Di sekitar waduk itu akan ditanam 3.500 pohon, yang merupakan bagian dari sekitar 3,5 juta pohon yang akan ditanam di seluruh Jawa Timur.

Dalam kesempatan itu, Ibu Yudhoyono memberikan bantuan makanan pendamping ASI sebanyak 5 ton, dan timbangan bayi 100 buah.

Sementara Presiden memberikan bantuan 30 unit traktor tangan, 5 ton padi hibrida, 25 ton pupuk NPK, 90 ton pupuk organik, lima batang pohon Muni, bibit pohon jati dan sukun.

Dalam acara itu, Presiden sempat berdialog dengan masyarakat.

Sanimin, petani kecil asal Desa Jesoren mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih terhadap program-program yang telah dijalankan pemerintah selama ini.

"Kehadiran bapak, menambah semangat masyarakat Madiun untuk mendukung kemajuan masyarakat seperti dengan pelaksanaan program PNPMNP. Kami sangat beruntung karena butuh rabuk, pengolah tanah dan obat-obatan yang kami dapat dari PNPM," kata Sanimin yang disampaikan dalam bahasa Jawa.

Presiden menanggapi hal itu mengatakan bahwa kegiatan penanaman pohon dan menebar benih ikan, juga terkait dengan upaya peningkatan kesejahteraan rakyat.

"Kami datang untuk memastikan bahwa program-program pro rakyat dilakukan dan ditingkatkan. Pemerintah akan terus bekerja siang malam yang betul-betul makin meningkatkan sejahtera rakyat di bidang pangan, pendidikan, kesehatan dan infrastruktur," katanya..

Kota Madiun tampak berbenah menghadapi kehadiran Presiden Yudhoyono dan rombongan yang akan berada di kota itu selama dua hari.

Sepanjang jalan yang akan dilalui Presiden, deretan spanduk, bendera dan umbul-umbul menghiasi pinggir jalan. Semua pembatas jalan dan trotoar juga dicat biru dan putih.

Hal serupa terlihat di lokasi acara penanaman pohon, warna biru mencuat di tengah hijaunya pepohonan. Tenda, dermaga bahkan batang pohon juga dicat biru.

Sepanjang jalan antara Lanud Iswahyudi tempat pesawat Presiden mendarat dengan lokasi waduk yang berjarak sekitar 30 km juga dipenuhi murid-murid sekolah TK sampai SMA yang berderet-deret melambaikan bendera merah putih kecil. (*)

Konservasi Kura-Kura



Pada hari Jumat, 18 Desember 2009, Kementerian Negara Lingkungan Hidup, diwakili oleh Asdep Partisipasi Masyarakat dan Lembaga Kemasyarakatan, Ir. Johny P. Kusumo, MBA menyerahkan sertifikat kepada PT Garuda Indonesia sebagai bentuk apresiasi Kementerian Lingkungan Hidup kepada Garuda Indonesia yang telah melaksanakan CSR (Corporate Sosial Responsibility) bidang lingkungan hidup. Hadir dalam kesempatan tersebut Deputi Meneg BUMN Bidang UKM dan Investasi Gumilang Harjakusuma, Wakil Kepala Kepolisian Nusa tenggara Barat Komisaris Besar Soebagyo MM, Wakil Kementerian Negara Lingkungan Hidup serta seluruh Direksi, Direktur dan seluruh jajaran staf KLH.
Sebagai bentuk kepedulian dan ”concern” terhadap kelestarian alam - khususnya dalam melakukan upaya pelestarian hewan penyu dari kepunahan; Garuda Indonesia menyerahkan tempat penangkaran penyu di pulau Gili Trawangan, Propinsi Nusa Tenggara Barat kepadamasyarakat pulau Gili Trawangan dan sekitarnya.

Peresmian tempat penangkaran penyu tersebut telah dilaksanakan secara simbolis pada hari Kamis (17/12) melalui penandatanganan prasasti peresmian oleh Gubernur Propinsi Nusa Tenggara Barat, TGH Zainul Majdi MA, dan Direktur SDM dan Umum Garuda Indonesia, Achirina, di kota Bima, NTB bertepatan dengan perayaan hari jadi ke-51 Propinsi Nusa Tenggara Barat. Dalam kesempatan tersebut Garuda Indonesia juga menyalurkan dana program kemitraan tahun 2009 propinsi Nusa Tenggara Barat sebesar Rp. 565 juta, serta dana untuk program bina lingkungan sebesar Rp. 287 juta.

Garuda Indonesia berharap kegiatan penangkaran penyu ini dapat mambantu menjaga kelestarian penyu di pulau Gili Trawangan. Penangkaran penyu diharapkan juga dapat memberikan peluang bagi pengembangan ekonomi masyarakat melalui kegiatan ekowisata di Gili Trawangan”.

Tempat penangkaran penyu seluas 10 X 24 m yang terletak di pinggir pantai desa Gili Indah, pulau Gili Trawangan tersebut telah dilaksanakan pembangunannya sejak bulan April 2009 lalu, dan program tersebut berjalan dengan sangat baik berkat kerjasama dengan pemerintah daerah dan masyarakat setempat.

Dalam kesempatan acara penyerahan tersebut telah dilaksanakan pelepasan sebanyak 100 ekor penyu berusia 9 bulan hasil penangkaran. Pelepasan penyu tersebut dilaksanakan sebanyak dua kali setahun. Penyu–penyu tersebut merupakan penyu yang dibeli dari masyarakat sekitar yang peduli atas kelestarian hewan penyu.

Sebelumnya pada tahun 2007 lalu, Garuda Indonesia juga telah menyatakan komitmennya dalam pelaksanaan CSR bidang Lingkungan Hidup, dengan melaksanakan beberapa kegiatan antara lain:

1. Penanaman 100 ribu pohon jenis Punai, Jelutung dan Blangiran di areal seluas 250 hektar dalam rangka penanaman kembali hutan di Taman Nasional Sebangau yang terbakar. Kegiatan ini terselenggara berkat kerjasama dengan Pemda Kalimantan Tengah dan WWF. Program tersebut dinamakan ”one passenger one tree” karena dana untuk program tersebut disisihkan oleh Garuda Indonesia dari revenue yang didapat dari beberapa rute diluar negeri sebesar USD 3 per penumpang.
2. Penanaman sebanyak 50 ribu pohon di desa Karang Tengah, Bantul, Yogyakarta, yang menjadi sentra produk kerajinan yang berasal dari ulat sutera. Untuk ini, Garuda Indonesia, sebelumnya juga telah bekerja sama dengan Pemerintah Daerah DI Jogjakarta dan Yayasan Royal Silk Jogjakarta.


Hal-hal yang telah dilaksanakan Garuda Indonesia merupakan contoh positif bagi dunia usaha lainnya untuk peduli terhadap pengelolaan lingkungan hidup melalui skema CSR bidang lingkungan hidup.

Rp 35 Triliun untuk Bersihkan Sungai Citarum


Citarum Roadmap merupakan serangkaian rencana strategis dalam upaya perbaikan dan revitalisasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, Jawa Barat. Waktu yang dialokasikan untuk kegiatan itu selama 15 tahun.

Citarum Roadmap atau ICWRMIP (Integrated Citarum Water Resources Management Investment Program), merupakan program yang terdiri dari 80 indikatif kegiatan intervensi dan akan terus diperbaharui. Estimasi total biaya sekitar Rp 35 triliun. Untuk tahap I (2009-2013), biaya yang dibutuhkan mencapai Rp 1,03 triliun yang berasal dari Asian Development Bank (ADB) dan APBN.

Untuk kegiatan tersebut ADB mengalokasikan pinjaman sebesar US$ 500 juta yang terbagi dalam sejumlah tahapan kegiatan. Khusus tahap pertama, Pemerintah mengalokasikan dana dari APBN sebesar US$ 34,4 juta. Sementara dari kelompok masyarakat penerima manfaat memberikan kontribusi sebesar US$ 3,4 juta. Hibah dari sejumlah lembaga mencapai US$ 15,8 juta. Adapun untuk ADB loan sudah dilakukan penandatanganan persetujuan pada April tahun 2009 lalu.

“Pemprov Jabar bersama sejumlah kepala daerah yang dilalui Citarum siap mendukung kegiatan dimaksud," ujar Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dalam rilis yang diterima VIVAnews, Rabu 20 Januari 2010. "Apalagi program ini merupakan upaya bersama dalam memperbaiki kondisi Citarum yang manfaatnya sangat besar bagi Jawa Barat,” ujar Gubernur di Gedung Negara Pakuan beberapa waktu lalu usai sosialisasi Citarum Roadmap.

Adapun sejumlah Walikota/Bupati yang siap mendukung antara lain Walikota Bandung, Bupati Bandung, Bupati Bandung Barat, Walikota Cimahi, Walikota Bekasi, Bupati Bekasi, dan Bupati Garut.

Citarum Roadmap telah melalui proses partisipasi semua pemangku kepentingan. Untuk itu selama 3 tahun (selesai 2007) melakukan kajian pendahuluan. Dalam kurun waktu itu, tim yang dibentuk Badan Perencanaan Pembangunan Nasional selesai melaksanakan penyusunan Roadmap. Melibatkan sejumlah pihak terkait, Bappenas selaku koordinator pusat, merangkul mereka guna menyusun bersama rencana kegiatan itu.

Berdasarkan data, Citarum merupakan sungai terbesar dan terpanjang di Jawa Barat. Total area sepanjang DAS Citarum mencapai 12.000 km persegi. Populasi penduduk di sepanjang sungai sebanyak 10 juta (50 persen diantaranya adalah kaum urban).

Manfaat Citarum dirasakan 25 Juta penduduk (15 Juta Jawa Barat, 10 Juta DKI Jakarta). Citarum menghasilkan tenaga listrik sebesar 1.400 megawatt. Mengairi areal irigasi seluas 420.000 hektar. Citarum menyuplai air baku untuk 80 persen penduduk Jakarta dengan debit air 16 m3/detik.

Saat ini kondisi Sungai Citarum cukup mengkhawatirkan. Selain kotor, Citarum pun terkenal sebagai sungai penyebab banjir di sejumlah kawasan. Hal itu disebabkan beberapa hal, diantaranya rusaknya kawasan hulu Citarum dan kegiatan manusia di sepanjang Daerah Aliran Sungai.

Di beberapa edisi surat kabar internasional, menyebutkan Citarum sebagai “Sungai Terkotor di Dunia”. Seperti yang dimuat di International Herald Tribune edisi 5 Desember 2008 dengan judul “ Citarum, The World Dirtiest River” dan The Sun edisi 4 Desember 2009 dengan judul “The Dirtiest River”.

Adapun tahap pertama Citarum Roadmap terdiri dari 9 kegiatan antara lain; :
1) Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai Citarum,
2) Peningkatan pengelolaan lahan dan air,
3) Pengelolaan air dan sanitasi berbasis masyarakat,
4) Rencana aksi peningkatan kualitas air,
5) Perlindungan lingkungan dan keanekaragaman hayati di hulu sungai,
6) Penataan ruang,
7) Pengelolaan banjir di kawasan hulu,
8) Desain untuk peningkatan sistem penyediaan air bersih Kota Bandung, dan
9) Strategi adaptasi terhadap perubahan iklim.

Ikan Terpanjang di dunia yang Hampir punah


Apakah Anda pernah melihat makhluk ini sebelumnya??
makhluk ini adalah oarfish yang juga dikenal sebagai tulang terpanjang di dunia ikan, tapi sayangnya mereka segera spesies akan punah.
sehingga ikan ini akan dikategorikan dalam hewan paling langka di dunia.

Oarfish
Othernames : Ribbon Fish
Scientific Names : Regalecus Glesne
Size Range : 10-50 feet
Habitat : Mediteranean & East Atlantic

Ikan ini termasuk ke dalam kategori langka dan sangat jarang terlihat. Saking langkanya sehingga ikan ini tidak pernah tertangkap kamera dalam keadaan hidup hingga tahun 2001.

Ia termasuk ke dalam family Regalecidae yang memiliki empat spesies. Salah satu spesies, Regalecus Glesne, yang sedang kita bicarakan ini, pernah masuk ke dalam Guinnes Book of World Record karena pernah ditemukan seekor yang hidup dengan panjang tubuh hingga 11 meter.

Makanannya adalah plankton dan makhluk-makhluk laut kecil lainnya. Ia mampu hidup hingga kedalaman 1.000 meter. Anehnya, ikan ini tidak memiliki sisik. Tubuhnya hanya diselimuti oleh semacam membran yang disebut guanine.

Ikan ini memiliki sirip tunggal berwarna merah dan termasuk ikan yang penyendiri. Namun ketika ikan ini sedang sakit atau sekarat, sepertinya sang penyendiri ini tidak ingin mati dalam kesepian. Jadi ia naik ke atas permukaan laut dan bertahan disitu hingga mati. Mungkin untuk menarik perhatian para pelaut, atau hanya ingin memandang matahari untuk terakhir kalinya.

Para pelaut masa lampau mungkin telah melihat ikan ini di permukaan dan mempersepsikannya sebagai monster laut. Misalnya, pada tahun 1860, ketika seekor Oarfish sepanjang 5 meter terdampar di pantai Bermuda, para penduduk segera mengkaitkannya dengan monster laut yang legendaris.

Senin, 11 Januari 2010

Dapatkah konservasi lahan gambut jadi lebih menguntungkan dari pada minyak kelapa?

Bulan Juni yang lalu, Bank Dunia mengeluarkan laporan yang memperingatkan bahwa perubahan iklim memunculkan resiko serius bagi Indonesia, termasuk kemungkinan hilangnya 2.000 pulau saat permukaan laut makin tinggi. Walau skenario ini terdenar mengerikan, beberapa mekanisme yang diusulkan untuk mengatasi perubahan iklim, terutama kredit karbon melalui penghindaran penggundulan hutan, menawarkan kesempatan unik bagi Indonesia untuk memperkuat ekonominya bersamaan dengan menerapkan kepemimpinan di dunia yang inovatif di bidang lingkungan dan politis.

Pada artikel tanggal 29 Juli, kami berargumen bahwa di beberapa kasus, melestarikan ekosistem dengan kredit karbon bisa jadi lebih menguntungkan daripada menjual kelapa sawit, menghasilkan nilai pajak yang lebih tinggi bagi kekayaan Indonesia, dan pada saat yang bersamaan memberikan hasil ekonomis yang menarik bagi para investor.

Sebagai tinjauan, penghindaran penggundulan hutan adalah proses dimana para pemiliknya, bisa jadi pemerintah, masyarakat, atau tuan tanah, menjual hak karbon di wilayah tertentu pada investor swasta. Investor swasta ini kemudian menjual kredit karbon di pasar internasional kepada perusahaan-perusahaan yang berusaha mengimbangi emisi mereka. Penghindaran hutan gundul saat ini hanya diketahui sebagai skema pengurangan emisi sukarela (voluntary emission reduction / VER), namun diharapkan konsep ini akan diterapkan pada pertemuan PBB mengenai iklim (COP-13) di bulan Desember di Bali, terutama jika proyek pembuktian konsep menunjukkan tanda-tanda keberhasilan.

Berkat hampir dari 20 juta hektar dari rawa lahan gambut yang dimilikinya, Indonesia mempunyai posisi yang baik untuk menimbun mekanisme pertumbuhan kredit karbon di masa datang. Bahkan, pengubahan, pengeringan, dan pembakaran lahan-lahan gambut saat ini (seringkali dilakukan saat membuat perkebunan kelapa sawit) diperkirakan oleh Wetlands International, sebuah LSM Belanda, akan melepaskan 2 miliar ton karbon ke atmosfer setiap tahunnya. Ini sebanding dengan 8 persen dari emisi karbon manusia secara global dan ini adalah penyebab kenapa Indonesia menjadi pembuang emisi karbon ketiga terbesar di dunia setelah Cina dan AS. Walau kebijakan konvensional mengatakan bahwa mengubah lahan gambut menjadi kelapa sawit ini adalah cara ekonomis terbaik untuk menggunakan lahan tersebut, analisi kami menunjukkan bahwa kredit karbon dapat menyadiakan investasi jangka panjang yang lebih baik bagi bisnis dan pemerintahan Indonesia. Bahkan, memperlambat penggundulan hutan dan melindungi ekosistem kaya karbon tak hanya akan member kesempatan Indonesia untuk menerima milyaran dollar per tahun melalui pasar karbon, namun itu juga akan menurunkan resiko terbukanya negara Indonesia pada fluktuasi harga kelapa sawit, dan juga resiko potensial dari serangan balik Eropa terhadap kelapa sawit sebagai biofuel.




Kalkulasi dan grafik oleh Rhett A. Butler.



Kita akan melihat lebih dekat pada kemungkinan-kemungkinan ini, menggunakan contoh spesifik dari lahan gambut di Kalimantan Tengah.

Kalimantan Tengah

Beberapa daerah lebih cocok untuk proyek finansial karbon dibandingkan Kalimantan Tengah, yang mempunyai 3 juta hektar lahan gambut yang menyimpan 6,3 gigaton karbon. Untuk mengilustrasikan potensi ekonomi dari kredit karbon dengan kelapa sawit, kita mengkomparasi nilai uang sekarang (net present value – NPV) dari 1.000 hektar perkebunan kelapa sawit standar dengan 1.000 hektar rawa gambut yang dilindungi atas nilai karbonnya. Asumsi perkebunan kelapa sawit:

* Biaya $2.700 per hektar untuk pembangunan perkebunan baru, dibayar pada 10% (figur tercetak)
* Hasil rata-rata dari 4,8 ton kelapa sawit per ha selama 25 tahun (IOPRI/ICRAF)
* Harga sawit $750 per ton persegi (harga sekarang)
* Pemasukan bersih 30% (figur tercetak)
* Pajak 7%, diskon 16%

Asumsi pelestarian lahan gambut untuk kredit karbon:

* Biaya manajemen 10%
* Pencegahan emisi karbon yang sebanding untuk kelapa sawit: 100 ton per ha untuk pembukaan hutan; 27 ton per tahun di tahun selanjutnya
* Kredit karbon berdasar pada raata-rata nilai pasar dunia 2006
* EU ETS Trading Scheme ($22.12)
* Secondary Clean Development Mechanism ($17.76)
* Laporan The State of the Voluntary Markets yang dikeluarkan bulan lalu oleh Ecosystem Marketplace and New Carbon Finance ($14.00)
* Pajak 7%

Hasil untuk bisnis

Hasil kami menunjukkan bahwa melestarikan lahan untuk nilai karbonnya berharga lebih dari kelapa sawit, untuk harga karbon saat ini di pasar : $9,99 juta untuk EU ETS Trading Scheme, $8,02 juta untuk Secondary Clean Development Mechanism, dan $6,32 juta untuk laporan State of the Voluntary Markets. Ini dibandingkan dengan $6,58 juta pemasukan bersih selama masa 25 tahun perkebunan kelapa sawit. Bahkan jika harga kelapa sawit naik hingga $1.000 per ton persegi, pemasukan bersih tetap akan kurang dari harga ETS saat ini.

Hasil untuk Pemerintahan

Kredit karbon juga menghasilkan pendapatan pajak yang lebih besar bagi keuangan Indonesia, lebih dari kelapa sawit, terutama dengan adanya laporan bahwa 90% dari perkebunan nasional tidak membayar pajaknya dengan utuh (Jakarta Post, 14 Agustus). Pada 7 persen nilai pajak untuk karbon, harga sekarang dari pendapatan pajak bagi pemerintah Indonesia berkisar dari $476.000 hingga $752.000, sementara perkebunan kelapa sawit menghasilkan $495.000. Bahkan, contoh tersebut menunjukkan bahwa pada beberapa harga karbon, pemerintah Indonesia dapat mengenakan nilai pajak yang sedikit lebih tinggi pada kredit karbon dibandingkan dengan kelapa sawit, dan bisnis di Indonesia tetap lebih baik secara finansial daripada jika mereka bergantung pada kelapa sawit.

Hasil dibaawah ini menunjukkan bahwa kredit karbon menawarkan potensi ekonomi yang besar dengan investasi yang rendah bagi Kalimantan Tengah. Lebih lanjut lagi, pengganti kerugian dari karbon ini bisa diterapkan pada daerah manapun di Indonesia yang memiliki lahan gambut dan hutan yang utuh. Pengembangan ini bisa membuat konservasi menjadi menguntungkan di Indonesia, sebuah langkah penting dalam melindungi lingkungan dan keanekaragaman hayati.

Dengan besarnya kemungkinan untuk menjadi pasar karbon nantinya, para pemilik lahan seharusnya memberikan pertimbangan serius mengenai nilai-nilai karbon saat memutuskan penggunaan lahannya. Walau kelapa sawit dapat dan akan terus berperan penting dalam ekonomi, penggantian kerugian karbon menawarkan mekanisme untuk mendukung dan memberikan variasi pada terbukanya finansial Indonesia, sementara pada saat yang bersamaan juga meminimalisir jejak negatif mereka pada lingkungan.

LAPISAN ES TERUS MENCAIR, BERUANG KUTUB TERANCAM


Lapisan es di laut Kutub Utara tampaknya telah mencapai tingkat paling rendah sepanjang tahun 2008 dan tingkat paling rendah kedua yang tercatat sejak kelahiran era satelit. Demikian pengamatan US National Snow and Ice Data Center.

Meskipun berada sedikit di atas catatan rendah minimum yang ditetapkan pada 16 September 2007, musim tahun ini memperkuat kecenderungan negatif kuat pada lapisan es laut selama musim panas yang diamati selama 30 tahun terakhir, demikian antara lain isi laporan yang disiarkan Selasa (16/9) waktu setempat atau Rabu WIB.

Sebelum tahun lalu, catatan rendah sebelumnya untuk September ditetapkan tahun 2005. Pusat data tersebut akan mengeluarkan analisis mengenai kemungkinan penyebab di balik kondisi es laut Kutub Utara tahun ini selama pekan pertama Oktober.

Pada Maret, ketika Kutub Utara mencapai lapisan es laut maksimumnya selama musim dingin, beberapa ilmuwan dari NASA dan pusat data pendukung NASA melaporkan lapisan es yang lebih tua dan tebal terus menyusut. Menurut data microwave satelit yang diproses NASA, es abadi itu yang dulu menutupi 50-60 persen Kutub Utara musim dingin saat ini hanya menutupi kurang dari 30 persen. Es laut abadi adalah lapisan es yang berusia panjang yang tetap ada bahkan ketika es laut musiman yang berusia pendek mencair hingga batas minimum selama musim panas.

Para ilmuwan NASA telah mengamati lapisan es Kutub Utara sejak 1979. NASA mengembangkan kemampuan untuk mengamati lapisan itu dan konsentrasi es laut dari udara selama sensor microwave pasif. Es tersebut menyusut hingga batas minimumnya pada 12 September 2008, ketika es itu menutupi wilayah seluasa 4,52 juta kilometer persegi, dan kini tampaknya berkembang, saat Kutub Utara mulai memasuki musim dingin, kata National Snow and Ice Data Center.

Satu terusan di Northwest Passage, jalur laut yang telah lama diinginkan antara Eropa dan Asia, terbuka pada 2007 dan 2008. Pada tahun ini juga terjadi pembukaan Northern Sea Route yang melewati Samudra Kutub Utara di sepanjang pantai Siberia.

Ice Center tersebut bulan lalu menyatakan terjadi pencairan es mendasar di Laut Chukchi di lepas pantai Alaska, Eastern Siberian Sea, di lepas pantai Rusia timur, salah satu habitat populasi terbesar beruang kutub di dunia. Karena beruang kutub menggunakan gumpalan es terapung sebagai landasan untuk berburu anjing laut, mereka terpaksa berenang menempuh jarak yang lebih jauh ketika es mencair sehingga sangat mungkin mereka akan kelelahan dan terancam mati tenggelam.

Es kutub merupakan satu faktor dalam pola cuaca dan iklim global. Perbedaan antara udara dingin di kutub dan udara hangat di sekitar Khatulistiwa mengirim udara dan arus hangat, termasuk arus pekat. Es laut membantu menahan udara dingin di sekitar Kutub Utara karena warna putihnya memantulkan sinar matahari. Ketika es laut menghilang, air gelap yang baru terbuka menyerap lebih banyak sinar matahari sehingga mempercepat dampak pemanasan.

Dikutip Dari Kompas.com

LAUT ARTIK : PULUHAN RIBU KILOMETER PERSEGI ES MELELEH




Laut Artik

Puluhan ribu kilometer persegi es di laut Arktik meleleh. Dengan mengamati melalui satelit, para ilmuwan memperkirakan luas lapisan sekarang adalah yang tersempit.

Peneliti kawakan Eddie Gruben menyaksikan es yang meleleh semakin luas per dekade. Pengamatan dilakukan sekitar 2.414 kilometer di utara Seattle, AS. Akhir pekan lalu, tepi es tinggal berjarak 128 kilometer menjorok ke laut dan menurut Gruben (89 tahun), 40 tahun lalu, tepi es menjorok 64 kilometer lebih jauh ke laut.

Rata-rata temperatur global naik 0,6 derajat celsius pada abad lalu, tetapi suhu Arktik naik jauh lebih cepat. Pada akhir Juli lalu, suhu naik hingga 30 derajat celsius. “Airnya amat hangat, anak-anak bisa berenang di laut,” ujar Gruben.

Daerah tersebut merupakan permukiman suku Inuvialuit—sebutan untuk bangsa Eskimo Arktik bagian barat. Kamis (6/8), Pusat Data Nasional AS untuk Salju dan Es menyebutkan, sekitar 106.000 kilometer persegi es meleleh pada suatu hari bulan Juli. Ini ekuivalen dengan luas Indiana. Tingkat melelehnya es ini sama dengan peristiwa Juli 2007.

Dari laporan kantor meteorologi di Colorado, kondisi atmosfer sekarang mirip dengan tahun 2007 yang ditandai dengan langit yang amat cerah. Ketika itu, es di Laut Beaufort di utara Arktik juga meleleh.

Sumber : Kompas.com

Polusi dan Lingkungan


Ciri, sifat, macam polusi dan limbah

Lingkungan terdiri dari komponen biotik dan abiotik. Jika komponen biotik berada dalam komposisi yang proporsional antara tingkat trofik dengan komponen abiotik yang mendukung kehidupan komponen biotik, lingkungan tersebut berada dalam keseimbangan atau stabil.

Contoh lingkungan alami yang seimbang adalah hutan. Di hutan, tumbuhan sebagai produsen ada dalam jumlah yang mencukupi untuk perlindungan dan makanan bagi konsumen tingkat pertama, seperti burung pemakan tumbuhan, rusa dan monyet. Tumbuhan di hutan dapat berkembang dengan baik karena kondisi lingkungan abiotik yang sesuai. Hewan sebagai konsumen tingkat pertama berada dalam jumlah yang mencukupi untuk kehidupan konsumen tingkat kedua, misalnya harimau, musang, dan ular. Jumlah masingmasing komponen biotik tersebut tidak mendominasi satu dengan yang lainnya sehingga terbentuk rantai makanan yang seimbang.

Keseimbangan lingkungan tidak statis, artinya dapat terjadi penurunan atau kenaikan populasi tiap jenis tumbuhan dan hewan serta berbagai komponen biotik. Perubahan komponen biotik dan abiotik dalam batas-batas tertentu tidak mengganggu keseimbangan lingkungan. Sebagai contoh jumlah rusa yang berkurang karena diburu manusia tidak berpengaruh terhadap kelangsungan hidup pemangsanya, misalnya harimau. Selama masih ada hewan lain di hutan, seperti kelinci, tikus, dan ayam hutan maka harimau akan memangsa hewan-hewan tersebut. Jumlah rusa juga dapat berkembang kembali selama perburuan tidak dilakukan terusmenerus.

Kemampuan hutan mendukung kelangsungan hidup harimau dengan adanya hewan mangsa adalah contoh daya dukung lingkungan. Daya dukung lingkungan adalah kemampuan lingkungan mendukung kehidupan berbagai makhluk hidup di dalamnya. Bertambahnya kembali jumlah rusa setelah berkurangnya perburuan adalah contoh daya lenting lingkungan.

Daya lenting lingkungan adalah kemampuan lingkungan untuk pulih kembali pada keadaan seimbang jika mengalami perubahan atau gangguan. Dengan demikian, lingkungan mampu menanggulangi perubahan-perubahan selama perubahan tersebut masih dalam daya dukung dan daya lentingnya.

Keseimbangan lingkungan dapat menjadi rusak, artinya lingkungan menjadi tidak seimbang jika terjadi perubahan yang melebihi daya dukung dan daya lentingnya. Perubahan lingkungan dapat terjadi karena alam maupun aktivitas manusia.

Perubahan lingkungan yang disebabkan oleh manusia dan berakibat pada alam, misalnya penebangan hutan. Penebangan hutan secara besar-besaran mengakibatkan fungsi hutan sebagai penahan air hujan akan berkurang.

Hilangnya pohon-pohon dapat mengakibatkan tidak adanya perakaran yang dapat menahan air hujan. Akibatnya hanya sedikit air yang terserap oleh tanah sehingga sebagian besar air akan mengalir sebagai air permukaan yang dapat mengakibatkan tanah longsor dan banjir.

Banjir lumpur panas Sidoarjo, Jawa Timur merupakan kasus menyemburnya lumpur panas yang diduga diakibatkan oleh aktivitas pengeboran untuk eksplorasi gas. Semburan lumpur tersebut menurut data dari pertama kali mencapai volume 5000 meter kubik perhari. Kemudian meningkat menjadi 40.000 meter kubik per hari, dan sekarang ini mencapai 135.000 meter kubik per hari. Sejumlah upaya telah dilakukan untuk menangulangi luapan lumpur, diantaranya dengan membuat tanggul untuk membendung area genangan lumpur. Namun tanggul akhirnya jebol. Menurut Menteri kelautan dan perikanan, kerugian oleh banjir lumpur panas tersebut mengakibatkan produksi tambak pada lahan seluas 989 hektar di dua kecamatan dan 1600 hektar di pesisir Sidoarjo mengalami kegagalan panen, sehingga kerugian diperkirakan mencapai 10.9 milyar per tahun.

Kegiatan manusia mengubah lingkungan dilakukan karena adanya kebutuhan hidup. Kebutuhan ini akan menjadi semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk. Upaya pemenuhan kebutuhan menusia dipengaruhi oleh perkembangan budaya. Ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai hasil perkembangan budaya digunakan untuk mengembangkan berbagai industri yang dapat memenuhi kebutuhan manusia, antara lain sebagai berikut:

1. Industri primer, mengupayakan kebutuhan dari alam secara langsung, seperti pertanian, pertambangan, perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikanan.

2. Industri sekunder, mengolah hasil industri primer seperti industri makanan, industri tekstil, industri kertas, industri pengolahan minyak bumi, dan industri logam.

3. Industri tersier, menghasilkan jasa atau pelayanan seperti industri informasi dan komunikasi, transportasi, dan perdagangan. Perkembangan industri tidak hanya mengubah lingkungan tetapi juga menimbulkan pencemaran.

Berbagi industri selain menghasilkan produk yang digunakan manusia juga menghasilkan buangan atau limbah.

Limbah adalah suatu benda atau zat yang dapat mengandung berbagai bahan yang membahayakan kehidupan manusia, hewan, serta makhluk hidup lainnya. Banyak limbah dihasilkan dari aktivitas manusia, termasuk industri dan kegiatan rumah tangga. Masuknya limbah rumah tangga dan industri ke dalam sungai menyebabkan pencemaran atau polusi air sungai. Pencemaran adalah perubahan keadaan lingkungan, baik secara fisik, kimia, atau pun biologi, meliputi udara, daratan, dan air yang tidak diinginkan.

Makhluk hidup, zat, energi, atau komponen penyebab pencemaran disebut polutan atau pencemar. Contoh polutan makhluk hidup atau polutan biologi ialah bakteri penyebab penyakit pada sampah dan kotoran. Polutan zat kimia disebut polutan kimia, contohnya limbah yang mengandung logam merkuri (Hg), gas CO2, gas CFC, debu asbes, dan pestisida. Sedangkan polutan energi disebut polutan fisik, misalnya panas dan radiasi.

Pencemaran berdasarkan bentuknya terbagi menjadi empat macam, yaitu pencemaran udara, pencemaran air, pencemaran tanah, dan pencemaran suara.
Pencemaran udara

Pencemaran udara berhubungan dengan pencemaran atmosfer bumi. Atmosfer merupakan lapisan udara yang menyelubungi bumi sampai ketinggian 300 km. Sumber pencemaran udara berasal dari kegiatan alami dan aktivitas manusia.

Sumber pencemaran udara di setiap wilayah atau daerah berbeda-beda. Sumber pencemaran udara berasal dari kendaraan bermotor, kegiatan rumah tangga, dan industri.


Karbon monoksida dalam tubuh manusia lebih cepat berikatan dengan hemoglobin daripada oksigen. Jika di udara terdapat karbon monoksida, oksigen akan kalah cepat berikatan dengan hemoglobin.

Beberapa orang akan menderita defisiensi oksigen dalam jaringan tubuhnya ketika haemoglobin darahnya berikatan dengan karbon monoksida sebesar 5%. Seorang perokok haemoglobin darahnya sering ditemukan mengandung karbon monoksida lebih dari 10%.

Defisiensi oksigen dalam tubuh dapat menyebabkan seseorang menderita sakit kepala dan pusing. Kandungan karbon monoksida yang mencapai 0.1.% di udara dapat mengganggu metabolisme tubuh organisme. Oleh karena itu, ketika memanaskan mesin kendaraan di dalam garasi sebaiknya pintu garasi dibuka agar gas CO yang terbentuk tidak terakumulasi di dalam ruangan dan terhirup.

Sulfur dioksida

Sulfur dioksida dilepaskan ke udara ketika terjadi pembakaran bahan bakar fosil dan pelelehan biji logam. Konsentrasi SO2 yang masih diijinkan ialah antara 0.3 sampai 1.0 mg m-3. Akan tetapi, di daerah yang dekat dengan industri berat, konsentrasi senyawa tersebut menjadi lebih tinggi, yaitu 3.000 mg m-3 .

Peningkatan konsentrasi sulfur di atmosfer dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia, terutama menyebabkan penyakit bronkitis, radang paru-paru (pneumonia), dan gagal jantung. Partikel-partikel ini biasanya sulit dibersihkan bila sudah mencapai alveoli sehingga menyebabkan iritasi dan mengganggu pertukaran gas.

Pencemaran sulfur (sulfur oksida) di sekitar daerah pencairan tembaga dapat menyebabkan kerusakan pada vegetasi hingga mencapai jarak beberapa kilometer jauhnya. Tumbuhan mengabsorbsi sulfur dioksida dari udara melalui stomata. Tingginya konsentrasi sulfur dioksida di udara seringkali menimbulkan kerusakan pada tanaman pertanian dan perkebunan.

Nitrogen oksida

Nitrogen oksida memainkan peranan penting di dalam penyusunan jelaga fotokimia. Nitrogen dioksida dihasilkan oleh gas buangan kendaraan bermotor. Peroksiasil nitrat yang dibentuk di dalam jelaga sering menyebabkan iritasi pada mata dan paru-paru.

Selain itu, bahan polutan tersebut dapat merusak tumbuhan.

Hujan asam

Dua gas yang dihasilkan dari pembakaran mesin kendaraan serta pembangkit listrik tenaga disel dan batubara yang utama adalah sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen dioksida (NO2). Gas yang dihasilkan tersebut bereaksi di udara membentuk asam yang jatuh ke bumi bersama dengan hujan dan salju. Misalnya, sulfur dioksida berreaksi dengan oksigen membentuk sulfur trioksida.

2 SO2 + O2 2 SO3

Sulfur trioksida kemudian bereaksi dengan uap air membentuk asam sulfat.

SO3 + H2O H2SO4

Uap air yang telah mengandung asam ini menjadi bagian dari awan yang akhirnya turun ke bumi sebagai hujan asam atau salju asam.

Hujan asam dapat mengakibatkan kerusakan hutan, tanaman pertanian, dan perkebunan. Hujan asam juga akan mengakibatkan berkaratnya benda-benda yang terbuat dari logam, misalnya jembatan dan rel kereta api, serta rusaknya berbagai bangunan.

Selain itu, hujan asam akan menyebabkan penurunan pH tanah, sungai, dan danau, sehingga mempengaruhi kehidupan organisme tanah, air, serta kesehatan manusia.

Efek rumah kaca (green house effect)

Efek rumah kaca merupakan gejala peningkatan suhu dipemukaan bumi yang terjadi karena meningkatnya kadar CO2 (karbon dioksida) di atmosfer. Gejala ini disebut efek rumah kaca karena diumpamakan dengan fenomena yang terjadi di dalam rumah kaca.

Pada rumah kaca, sinar matahari dapat dengan mudah masuk ke dalamnya. Sebagian sinar matahari tersebut digunakan oleh tumbuhan dan sebagian lagi dipantulkan kembali ke arah kaca.

Sinar yang dipantulkan ini tidak dapat keluar dari rumah kaca dan mengalami pemantulan berulang-ulang. Energi yang dihasilkan meningkatkan suhu rumah kaca sehingga rumah kaca menjadi panas.

Di bumi, radiasi panas yang berasal dari matahari ke bumi diumpamakan seperti menembus dinding kaca rumah kaca. Radiasi panas tersebut tidak diserap seluruhnya oleh bumi. Sebagian radiasi dipantulkan oleh benda-benda yang berada di permukaan bumi ke ruang angkasa. Radiasi panas yang dipantulkan kembali ke ruang angkasa merupakan radiasi infra merah. Sebagian radiasi infra merah tersebut dapat diserap oleh gas penyerap panas (disebut: gas rumah kaca). Gas penyerap panas yang paling penting di atmosfer adalah H2O dan CO2. Seperti kaca dalam rumah kaca, H2O dan CO2 tidak dapat menyerap seluruh radiasi infra merah sehingga sebagian radiasi tersebut dipantulkan kembali ke bumi. Keadaan inilah yang menyebabkan suhu di permukaan bumi meningkat atau yang disebut dengan pemanasan global (global warning).

Kenaikan suhu menyebabkan mencairnya gunung es di kutub utara dan selatan. Kondisi ini mengakibatkan naiknya permukaan air laut, sehingga menyebabkan berbagai kota dan wilayah pinggir laut akan tenggelam, sedangkan daerah yang kering menjadi semakin kering. Efek rumah kaca menimbulkan perubahan iklim, misalnya suhu bumi meningkat rata-rata 3°C sampai 4°C pada abad ke-21, kekeringan atau curah hujan yang tinggi di berbagai tempat dapat mempengaruhi produktivitas budidaya pertanian, peternakan, perikanan, dan kehidupan manusia.

Penipisan lapisan ozon

Lapisan ozon (O3) adalah lapisan gas yang menyelimuti bumi pada ketinggian ± 30 km diatas bumi. Lapisan ozon terdapat pada lapisan atmosfer yang disebut stratosfer. Lapisan ozon ini berfungsi menahan 99% radiasi sinar Ultra violet (UV) yang dipancarkan ke matahari.

Gas CFC (Chloro Fluoro Carbon) yang berasal dari produk aerosol (gas penyemprot), mesin pendingin dan proses pembuatan plastik atau karet busa, jika sampai ke lapisan stratosfer akan berikatan dengan ozon. CFC yang berikatan dengan ozon menyebabkan terurainya molekul ozon sehingga terjadi kerusakan lapisan ozon, berupa penipisan lapisan ozon.

Penipisan lapisan ozon di beberapa tempat telah membentuk lubang seperti di atas Antartika dan kutub Utara. Lubang ini akan mengurangi fungsi lapisan ozon sebagai penahan sinar UV. Sinar UV yang sampai ke bumi akan menyebakan kerusakan pada kehidupan di bumi. Kerusakan tersebut antara lain gangguan pada rantai makanan di laut, serta kerusakan tanaman budidaya pertanian, perkebunan, serta mempengaruhi kesehatan manusia.

Radiasi

Makhluk hidup sudah lama menjadi objek dari bermacammacam bentuk radiasi. Misalnya, radiasi matahari yang mengandung sinar ultraviolet dan gelombang infra merah. Selain berasal dari matahari, radiasi dapat juga berasal dari luar angkasa, berupa sinar kosmis dan mineral-mineral radioaktif dalam batubatuan.

Akan tetapi bentuk radiasi akibat aktivitas manusia akan menimbulkan polusi.

Bentuk-bentuk radiasi berupa kegiatan uji coba bom nuklir dan penggunaan bom nuklir oleh manusia dapat berupa gelombang elektromagnetik dan partikel subatomik. Kedua macam bentuk radiasi tersebut dapat mengancam kehidupan makhluk hidup.

Dampak radiasi dapat dilihat pada tingkat genetik dan sel tubuh.

Dampak genetik pada interfase menyebabkan terjadinya perubahan gen pada AND atau dikenal sebagai mutasi gen. Dampak somatik (sel tubuh) adalah seseorang memiliki otak yang lebih kecil daripada ukuran normal, cacat mental, dan gangguan fisik lainnya serta leukemia.
Pencemaran tanah

Pencemaran tanah berasal dari limbah rumah tangga, kegiatan pertanian, dan pertambangan.

Limbah rumah tangga

Dalam rumah tangga, air digunakan untuk minum, memasak, mencuci, dan berbagai keperluan lainnya. Setelah digunakan, air dibuang atau mengalir ke selokan. Selanjutnya, air tersebut mengalir ke sungai, danau, dan laut. Air buangan rumah tangga atau dikenal sebagai limbah domestik mengandung 95% sampai 99% air dan sisanya berupa limbah organik .

Sebagian dari air buangan terdiri atas komponen nitrogen, seperti urea dan asam urik yang kemudian akan terurai menjadi amoniak dan nitrit. Pada perairan yang dimasuki oleh limbah rumah tangga biasanya akan menyebabkan populasi ganggang menjadi meningkat pesat sebagai akibat banyaknya persediaan nutrien.

Sebaliknya, persediaan oksigen dalam perairan tersebut semakin berkurang. Di sana dapat ditemukan Tubifex sp., hewan air yang mampu hidup dengan baik di bawah kondisi defisiensi oksigen.

Semakin ke hilir atau ke arah muara, limbah organik lebih terurai secara sempurna sehingga kandungan oksigen dalam air kembali normal. Hewan dan tumbuhan air dapat tumbuh dengan baik.

Selain itu limbah rumah tangga terpenting adalah sampah.

Sampah dalam jumlah banyak seperti di kota-kota besar, berperan besar dalam pencemaran tanah, air, dan udara. Tanah yang mengandung sampah diatasnya akan menjadi tempat hidup berbagai mikroorganisme penyebab penyakit. Pencemaran oleh mikroorganisme dan polutan lainnya dari sampah akan mengurangi kualitas air tanah. Air tanah yang menurun kualitasnya dapat terlihat dari perubahan fisiknya, misalnya bau, warna, dan rasa, bahkan terdapat lapisan minyak. Beberapa jenis sampah, seperti plastik dan logam sulit terurai sehingga berpengaruh pada kemampuan tanah menyerap air.

Limbah pertanian

Dalam kegiatan pertanian, penggunaan pupuk buatan, zat kimia pemberantas hama (pestisida), dan pemberantas tumbuhan pengganggu (herbisida) dapat mencemari tanah, dan air.

Herbisida merupakan pestisida yang 40% produknya sudah digunakan di dunia. Para petani menggunakan herbisida untuk mengontrol atau mematikan sehingga tanaman pertanian dapat tumbuh dengan baik. Percobaan pada kelinci dan kera menggunakan dosis herbisida diatas 25% menunjukkan bahwa pemberian makanan dan minuman yang dicampur herbisida dapat menyebabkan organ hati dan ginjal hewan tersebut mudah terkena tumor dan kanker.

Fungisida merupakan pestisida yang digunakan untuk mengontrol atau memberantas cendawan (fungi) yang dianggap sebagai wabah atau penyakit. Penyemprotan fungisida dapat melindungi tanaman pertanian dari serangan cendawan parasit dan mencegah biji (benih) menjadi busuk di dalam tanah sebelum berkecambah. Akan tetapi, sejak metal merkuri sangat beracun terhadap manusia, biji-bijian yang telah mendapat perlakuan fungisida yang mengandung metal merkuri tidak pernahdimanfaatkan untuk bahan makanan. Fungisida dapat memberi dampak buruk terhadap lingkungan.

Insektisida merupakan bahan kimia yang digunakan untuk membunuh serangga hama. Jenis pestisida ini sudah digunakan manusia sejak lama. Pestisida dan herbisida memiliki sifat sulit terurai dan dapat bertahan lama di dalam tanah. Residu pestisida dan herbisida ini membahayakan kehidupan organisme tanah.

Senyawa organoklorin utama di dalam insektisida adalah DDT (Dikloro Difenil Trikloroetana) dapat membunuh mikroorganisme yang sangat penting bagi proses pembusukan, sehingga kesuburan tanah terganggu Tanah yang tercemar pupuk kimiawi, pestisida, dan herbisida dapat mencemari sungai karena zat-zat tersebut dapat terbawa air hujan atau erosi.

Penggunaan pupuk buatan secara berlebihan menyebabkan tanah menjadi masam, yang selanjutnya berpengaruh terhadap produktivitas tanaman. Tanaman menjadi layu, berkurang produksinya, dan akhirnya mati. Pencemaran tanah oleh pestisida dan herbisida terjadi saat dilakukan penyemprotan. Sisa-sisa penyemprotan tersebut akan terbawa oleh air hujan, akhirnya mengendap di tanah. Penggunaan bahan-bahan kimiawi secara terus menerus akan mengakibatkan kerusakan tekstur tanah, tanah mengeras, dan akan retak-retak pada musim kemarau.

Pertambangan

Aktivitas penambangan bahan galian juga dapat menimbulkan pencemaran tanah. Salah satu kegiatan penambangan yang memiliki pengaruh besar mencemarkan tanah adalah penambangan emas. Pada penambangan emas, polusi tanah terjadi akibat penggunaan merkuri (Hg) dalam proses pemisahan emas dari bijinya. Merkuri tergolong sebagai bahan berbahaya dan beracun yang dapat mematikan tumbuhan, organisme tanah, dan mengganggu kesehatan manusia.
Pencemaran air

Pencemaran air meliputi pencemaran di perairan darat, seperti danau dan sungai, serta perairan laut. Sumber pencemaran air, misalnya pengerukan pasir, limbah rumah tangga, industri, pertanian, pelebaran sungai, pertambangan minyak lepas pantai, serta kebocoran kapal tanker pengangkut minyak.

Limbah rumah tangga

Limbah rumah tangga seperti deterjen, sampah organik, dan anorganik memberikan andil cukup besar dalam pencemaran air sungai, terutama di daerah perkotaan. Sungai yang tercemar deterjen, sampah organik dan anorganik yang mengandung miikroorganisme dapat menimbulkan penyakit, terutama bagi masyarakat yang mengunakan sungai sebagai sumber kehidupan sehari-hari. Proses penguraian sampah dan deterjen memerlukan oksigen sehingga kadar oksigen dalam air dapat berkurang. Jika kadar oskigen suatu perairaan turun sampai kurang dari 5 mg per liter, maka kehidupan biota air seperti ikan terancam.

Limbah industri

Limbah industri yang mencemarkan air dapat berupa polutan sampah organik dan anorganik. Polutan tersebut berasal dari pabrik pengolahan hasil ternak, polutan logam berat, dan polutan panas yang antara lain berasal dari air pendingin industri. Limbah industri dapat membunuh mikroorganisme air. Akan tetapi, beberapa pabrik tidak mampu menghilangkan unsur kimia atau racun yang dikandungnya. Limbah industri yang dapat mencemari air bergantung pada jenis industrinya. Limbah tersebut berupa organik, anorganik, dan panas.

Sebagian besar industri membuang limbah cairnya ke perairan sungai tanpa diolah terlebih dahulu. Untuk mengendalikan pencemaran air oleh industri, pemerintah membuat aturan bahwa limbah industri harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke sungai. Limbah cair yang telah diolah, sisa olahannya pun masih mengandung bahan beracun dan berbahaya seperti merkuri (Hg), timbal (Pb), krom (Cr), tembaga (Cu), seng (Zn), dan nikel (Ni).

Merkuri dapat berasal dari air limbah penggilingan kertas (pulp = bubur kertas) dan pabrik yang membuat vinil plastik atau berasal dari air hujan. Kebanyakan merkuri terakumulasi di dasar perairan, seperti sungai, danau, dan lautan, kemudian diuraikan menjadi metal merkuri oleh metan yang diproduksi oleh bakteri. Metil merkuri bersifat sangat beracun dan dapat diabsorpsi oleh makhluk hidup yang berada di perairan. Ikan yang tercemar oleh merkuri jika dikonsumsi oleh ibu yang hamil, keturunannya dapat menderita cacat karena kerusakan pada saraf, bahkan dapat mengakibatkan kematian.

Tembaga dapat masuk ke perairan atau sungai melalui pembuangan air limbah yang berasal dari bijih atau cairan tembaga yang dibuang oleh penambangan tembaga. Tembaga merupakan logam yang sangat beracun. Kadar tembaga yang kurang dari 1 ppm pada perairan dapat mematikan ikan dan hewan air lainnya.

Ikan mengabsorbsi tembaga melalui insangnya. Di perairan yang mengandung konsentrasi oksigen terlarut rendah, gerakan membuka dan menutupnya insang berlangsung lebih cepat sehingga proses kematian ikan akibat polusi tembaga menjadi lebih cepat.

Pembakaran bensin pada mesin pabrik menghasilkan lebih dari 80% timah di udara. Timah yang ditambahkan ke dalam bensin adalah timah tetraetil (TEL) yang berfungsi sebagai senyawa anti knock. Di daerah pedesaan, kandungan timah di udara yang berasal dari kegiatan manusia sekitar 20%, sedangkan di kota-kotabesar lebih dari 50%. Orang yang bekerja memperbaiki kendaraan bermotor di ruangan tertutup, dalam darahnya akan mengandung konsentrasi timah yang lebih tinggi dibandingkan bagi mereka yang bekerja pada ruangan yang terbuka.

Jika suatu perairan mengandung timah yang berasal dari tangki atau pipa saluran air minum dengan konsentrasi lebih dari 0.5 ppm, maka logam tersebut dapat bersifat racun bagi kehidupan ikan di perairan. Hanya beberapa ganggang dan serangga yang mampu hidup di perairan tersebut. Jika ikan yang tercemar tersebut dikonsumsi manusia, akan membahayakan kesehatan manusia.

Limbah pertanian

Kegiatan pertanian dapat menyebabkan pencemaran air terutama karena penggunaan pupuk buatan, pestisida, dan herbisida. Pencemaran air oleh pupuk, pestisida, dan herbisida dapat meracuni organisme air, seperti plankton, ikan, hewan yang meminum air tersebut dan juga manusia yang menggunakan air tersebut untuk kebutuhan sehari-hari. Residu pestisida seperti DDT yang terakumulasi dalam tubuh ikan dan biota lainnya dapat terbawa dalam rantai makanan ke tingkat trofil yang lebih tinggi, yaitu manusia.

Selain itu, masuknya pupuk pertanian, sampah, dan kotoran ke bendungan, danau, serta laut dapat menyebabkan meningkatnya zat-zat hara di perairan. Peningkatan tersebut mengakibatkan pertumbuhan ganggang atau enceng gondok menjadi pesat (blooming).

Pertumbuhan ganggang atau enceng gondok yang cepat dan kemudian mati membutuhkan banyak oksigen untuk menguraikannya. Kondisi ini mengakibatkan kurangnya oksigen dan mendorong terjadinya kehidupan organisme anaerob. Fenomena ini disebut sebagai eutrofikasi.

Limbah pertambangan

Pencemaran minyak di laut terutama disebabkan oleh limbah pertambangan minyak lepas pantai dan kebocoran kapal tanker yang mengangkut minyak. Setiap tahun diperkirakan jumlah kebocoran dan tumpahan minyak dari kapal tanker ke laut mencapai 3.9 juta ton sampai 6.6 juta ton. Tumpahan minyak merusak kehidupan di laut, diantaranya burung dan ikan. Minyak yang menempel pada bulu burung dan insang ikan mengakibatkan kematian hewan tersebut.
Pencemaran Suara (Kebisingan)

Ancaman serius lain bagi kualitas lingkungan manusia adalah pencemaran suara. Bunyi atau suara yang dapat mengganggu dan merusak pendengaran manusia disebut kebisingan. Tingkat kebisingan terjadi bila intensitas bunyi melampui 50 desibel (db).

Oleh karena kebisingan dapat mengganggu lingkungan, kebisingan dapat dimasukkan sebagai pencemaran.

Suara dengan intensitas tinggi, seperti yang dikeluarkan oleh mesin industri, kenderaan bermotor, dan pesawat terbang secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama dapat mengganggu manusia, bahkan menyebabkan cacat pendengaran yang permanen. Oleh karena itu, bunyi dapat dianggap sebagai bahan pencemar serius yang mengganggu kesehatan manusia.
Dampak polusi terhadap kesehatan manusia

1. Defisiensi oksigen dalam tubuh dapat menyebabkan seseorang sakit kepala dan pusing. Udara yang tercemar gas karbon monoksida (CO) jika dihirup seseorang akan menimbulkan keracunan, jika orang tersebut terlambat ditolong dapat mengakibatkan kematian. Kandungan karbon monoksida yang mencapai 0.1.% di udara dapat mengakibatkan kematian.

2. Penipisan lapisan ozon dapat menyebabkan terjadinya kanker kulit (terutama untuk orang yang berkulit putih) dan kerusakan mata (katarak).

3. Limbah rumah tangga yang dibuang ke sungai dapat menimbulkan berbagai macam penyakit, diantaranya ialah penyakit kulit, kolera, dan disentri.

4. Ketika menghirup udara yang tercemar timah, maka timah dapat terabsorpsi kedalam darah dan terakumulasi di dalam hati, ginjal, dan tulang yang akan mengganggu proses metabolisme tubuh, bahkan dapat menimbulkan kematian.

5. Konsentrasi merkuri tertinggi terdapat di ginjal, hati, dan otak, sehingga dapat menyebabkan manusia mengalami kehilangan sensasi, menjadi buta yang berasal dari ikan yang dikonsumsi dari teluk Minamata di Jepang, bahkan dapat menyebabkan cacat janin pada ibu hamil yang mengkonsumsi ikan tersebut.

6. Kadmium yang masuk ke tubuh manusia melalui udara (pernafasan) menyebabkan kerusakan ginjal dan meningkatnya tekanan darah (hipertensi).

Parameter kualitas limbah Pencemaran lingkungan dapat diukur dengan parameter kualitas limbah. Parameter tersebut digunakan untuk mengetahui tingkat pencemaran yang sudah terjadi di lingkungan. Beberapa parameter kimia kualitas air yang perlu diketahui antara lain adalah BOD, COD, DO, dan pH. Pengukuran fisik dapat dilakukan dengan memperhatikan warna, bau, dan rasa air sungai, kecepatan laju air dengan bola pingpong, penetrasi cahaya, dalam dan lebar sungai dan lainnya.

Manakala pengukuran biologi dilakukan dengan menghitung indeks keanekaragaman dan kelimpahan organisme air seperti plankton, benthos, serangga air, moluska, ikan dan lainnya sehingga diperoleh data yang valid. Pengukuran ketiga metode (faktor fisik, kimia dan biologi) merupakan metode paling tepat dan akurat dalam menentukan parameter kualitas perairan.

BOD (Biochemical oxygen demand)

BOD adalah ukuran kandungan oksigen terlarut yang diperlukan oleh mikroorganisme yang hidup di perairan untuk menguraikan bahan organik yang ada di dalamnya. Apabila kandungan oksigen dalam air menurun, maka kemampuan mikroorganisme aerobik untuk menguraikan bahan organik tersebut juga menurun.

BOD ditentukan dengan mengukur jumlah oksigen yang digunakan oleh mikroorganisme selama kurun waktu dan pada temperatur tertentu (biasanya lima hari pada suhu 20°C). Nilai BOD diperoleh dari selisih oksigen terlarut awal dengan oksigen terlarut akhir. BOD merupakan ukuran utama kekuatan limbah cair.

COD (Chemical oxygen demand)

COD merupakan jumlah oksigen yang diperlukan agar bahan buangan yang ada didalam air dapat teroksidasi melalui reaksi kimiawi. Indikator ini umumnya digunakan pada limbah industri.

DO (Dissolved oxygen)

DO adalah kadar oksigen terlarut dalam air. Penurunan DO dapat diakibatkan oleh pencemaran air yang mengandung bahan organik sehingga menyebabkan organisme air terganggu. Semakin kecil nilai DO dalam air, tingkat pencemarannya semakin tinggi. DO penting dan berkaitan dengan sistem saluran pembuangan maupun pengolahan limbah.

pH

Nilai pH limbah cair adalah ukuran kemasaman atau kebasaan limbah. Air yang tidak tercemar memiliki pH antara 6.5-7.5. Sifat air bergantung pada besar kecilnya pH. Air yang memiliki pH lebih kecil dari pH normal akan bersifat masam, sedangkan air yang memilki pH lebih besar dari pH normal akan bersifat basa. Perubahan pH air tergantung pada polutan air tersebut. Air yang memiliki pH lebih kecil atau lebih besar dari kisaran pH normal tidak sesuai untuk kehidupan bakteri asidofil atau organisme lainnya.
Penanganan limbah

Kegiatan yang dilakukan makhluk hidup banyak menghasilkan limbah. Produksi limbah yang berlebihan dapat menimbulkan masalah bagi lingkungan. Berdasarkan komponen penyusunnya, limbah dibedakan menjadi dua jenis, yaitu limbah organik dan limbah anorganik. Limbah organik ialah limbah yang dapat diuraikan oleh organisme detrivor karena berasal dari bahan-bahan organik.

Contoh limbah organik ialah limbah yang berasal dari tumbuhan dan hewan, misalnya kulit pisang, atau kotoran ayam.

Limbah anorganik adalah limbah yang tidak dapat diuraikan oleh organisme detrivor atau diuraikan tetapi dalam jangka waktu yang lama. Bahan yang diuraikan berasal dari sumber daya alam yang tidak dapat diperbaruhi, seperti mineral, minyak bumi dan berasal dari proses industri, seperti botol, plastik, dan kaleng. Limbah organik dapat dimanfaatkan baik secara langsung (contohnya untuk makanan ternak) maupun secara tidak langsung melalui proses daur ulang (contohnya pengomposan dan biogas).

Limbah anorganik yang dapat di daur ulang, antara lain adalah plastik, logam, dan kaca. Namun, limbah yang dapat didaur ulang tersebut harus diolah terlebih dahulu dengan cara sanitary landfill, pembakaran (incineration), atau penghancuran (pulverisation).



Dikutip dari dahlanforum.wordpress.com

50 tips to stop global warming



50 tips to stop global warming

1. Replace a regular incandescent light bulb with a compact fluorescent light bulb (cfl)
CFLs use 60% less energy than a regular bulb. This simple switch will save about 300 pounds of carbon dioxide a year.
We recommend you purchase your CFL bulbs at 1000bulbs.com, they have great deals on both screw-in and plug-in light bulbs.
2. Install a programmable thermostat
Programmable thermostats will automatically lower the heat or air conditioning at night and raise them again in the morning. They can save you $100 a year on your energy bill.
3. Move your thermostat down 2° in winter and up 2° in summer
Almost half of the energy we use in our homes goes to heating and cooling. You could save about 2,000 pounds of carbon dioxide a year with this simple adjustment.
4. Clean or replace filters on your furnace and air conditioner
Cleaning a dirty air filter can save 350 pounds of carbon dioxide a year.
5. Choose energy efficient appliances when making new purchases
Look for the Energy Star label on new appliances to choose the most energy efficient products available.
6. Do not leave appliances on standby
Use the “on/off” function on the machine itself. A TV set that’s switched on for 3 hours a day (the average time Europeans spend watching TV) and in standby mode during the remaining 21 hours uses about 40% of its energy in standby mode.
7. Wrap your water heater in an insulation blanket
You’ll save 1,000 pounds of carbon dioxide a year with this simple action. You can save another 550 pounds per year by setting the thermostat no higher than 50°C.
8. Move your fridge and freezer
Placing them next to the cooker or boiler consumes much more energy than if they were standing on their own. For example, if you put them in a hot cellar room where the room temperature is 30-35ºC, energy use is almost double and causes an extra 160kg of CO2 emissions for fridges per year and 320kg for freezers.
9. Defrost old fridges and freezers regularly
Even better is to replace them with newer models, which all have automatic defrost cycles and are generally up to two times more energy-efficient than their predecessors.
10. Don’t let heat escape from your house over a long period
When airing your house, open the windows for only a few minutes. If you leave a small opening all day long, the energy needed to keep it warm inside during six cold months (10ºC or less outside temperature) would result in almost 1 ton of CO2 emissions.
11. Replace your old single-glazed windows with double-glazing
This requires a bit of upfront investment, but will halve the energy lost through windows and pay off in the long term. If you go for the best the market has to offer (wooden-framed double-glazed units with low-emission glass and filled with argon gas), you can even save more than 70% of the energy lost.
12. Get a home energy audit
Many utilities offer free home energy audits to find where your home is poorly insulated or energy inefficient. You can save up to 30% off your energy bill and 1,000 pounds of carbon dioxide a year. Energy Star can help you find an energy specialist.
13. Cover your pots while cooking
Doing so can save a lot of the energy needed for preparing the dish. Even better are pressure cookers and steamers: they can save around 70%!
14. Use the washing machine or dishwasher only when they are full
If you need to use it when it is half full, then use the half-load or economy setting. There is also no need to set the temperatures high. Nowadays detergents are so efficient that they get your clothes and dishes clean at low temperatures.
15. Take a shower instead of a bath
A shower takes up to four times less energy than a bath. To maximise the energy saving, avoid power showers and use low-flow showerheads, which are cheap and provide the same comfort.
16. Use less hot water
It takes a lot of energy to heat water. You can use less hot water by installing a low flow showerhead (350 pounds of carbon dioxide saved per year) and washing your clothes in cold or warm water (500 pounds saved per year) instead of hot.
17. Use a clothesline instead of a dryer whenever possible
You can save 700 pounds of carbon dioxide when you air dry your clothes for 6 months out of the year.
18. Insulate and weatherize your home
Properly insulating your walls and ceilings can save 25% of your home heating bill and 2,000 pounds of carbon dioxide a year. Caulking and weather-stripping can save another 1,700 pounds per year. Energy Efficient has more information on how to better insulate your home.
19. Be sure you’re recycling at home
You can save 2,400 pounds of carbon dioxide a year by recycling half of the waste your household generates.
20. Recycle your organic waste
Around 3% of the greenhouse gas emissions through the methane is released by decomposing bio-degradable waste. By recycling organic waste or composting it if you have a garden, you can help eliminate this problem! Just make sure that you compost it properly, so it decomposes with sufficient oxygen, otherwise your compost will cause methane emissions and smell foul.
21. Buy intelligently
One bottle of 1.5l requires less energy and produces less waste than three bottles of 0.5l. As well, buy recycled paper products: it takes less 70 to 90% less energy to make recycled paper and it prevents the loss of forests worldwide.
22. Choose products that come with little packaging and buy refills when you can
You will also cut down on waste production and energy use… another help against global warming.
23. Reuse your shopping bag
When shopping, it saves energy and waste to use a reusable bag instead of accepting a disposable one in each shop. Waste not only discharges CO2 and methane into the atmosphere, it can also pollute the air, groundwater and soil.
24. Reduce waste
Most products we buy cause greenhouse gas emissions in one or another way, e.g. during production and distribution. By taking your lunch in a reusable lunch box instead of a disposable one, you save the energy needed to produce new lunch boxes.
25. Plant a tree
A single tree will absorb one ton of carbon dioxide over its lifetime. Shade provided by trees can also reduce your air conditioning bill by 10 to 15%. The Arbor Day Foundation has information on planting and provides trees you can plant with membership.
26. Switch to green power
In many areas, you can switch to energy generated by clean, renewable sources such as wind and solar. In some of these, you can even get refunds by government if you choose to switch to a clean energy producer, and you can also earn money by selling the energy you produce and don’t use for yourself.
27. Buy locally grown and produced foods
The average meal in the United States travels 1,200 miles from the farm to your plate. Buying locally will save fuel and keep money in your community.
28. Buy fresh foods instead of frozen
Frozen food uses 10 times more energy to produce.
29. Seek out and support local farmers markets
They reduce the amount of energy required to grow and transport the food to you by one fifth. Seek farmer’s markets in your area, and go for them.
30. Buy organic foods as much as possible
Organic soils capture and store carbon dioxide at much higher levels than soils from conventional farms. If we grew all of our corn and soybeans organically, we’d remove 580 billion pounds of carbon dioxide from the atmosphere!
31. Eat less meat
Methane is the second most significant greenhouse gas and cows are one of the greatest methane emitters. Their grassy diet and multiple stomachs cause them to produce methane, which they exhale with every breath.
32. Reduce the number of miles you drive by walking, biking, carpooling or taking mass transit wherever possible
Avoiding just 10 miles of driving every week would eliminate about 500 pounds of carbon dioxide emissions a year! Look for transit options in your area.
33. Start a carpool with your coworkers or classmates
Sharing a ride with someone just 2 days a week will reduce your carbon dioxide emissions by 1,590 pounds a year. eRideShare.com runs a free service connecting north american commuters and travelers.
34. Don’t leave an empty roof rack on your car
This can increase fuel consumption and CO2 emissions by up to 10% due to wind resistance and the extra weight – removing it is a better idea.
35. Keep your car tuned up
Regular maintenance helps improve fuel efficiency and reduces emissions. When just 1% of car owners properly maintain their cars, nearly a billion pounds of carbon dioxide are kept out of the atmosphere.
36. Drive carefully and do not waste fuel
You can reduce CO2 emissions by readjusting your driving style. Choose proper gears, do not abuse the gas pedal, use the engine brake instead of the pedal brake when possible and turn off your engine when your vehicle is motionless for more than one minute. By readjusting your driving style you can save money on both fuel and car mantainance.
37. Check your tires weekly to make sure they’re properly inflated
Proper tire inflation can improve gas mileage by more than 3%. Since every gallon of gasoline saved keeps 20 pounds of carbon dioxide out of the atmosphere, every increase in fuel efficiency makes a difference!
38. When it is time for a new car, choose a more fuel efficient vehicle
You can save 3,000 pounds of carbon dioxide every year if your new car gets only 3 miles per gallon more than your current one. You can get up to 60 miles per gallon with a hybrid! You can find information on fuel efficiency on FuelEconomy and on GreenCars websites.
39. Try car sharing
Need a car but don’t want to buy one? Community car sharing organizations provide access to a car and your membership fee covers gas, maintenance and insurance. Many companies – such as Flexcar – offer low emission or hybrid cars too! Also, see ZipCar.
40. Try telecommuting from home
Telecommuting can help you drastically reduce the number of miles you drive every week. For more information, check out the Telework Coalition.
41. Fly less
Air travel produces large amounts of emissions so reducing how much you fly by even one or two trips a year can reduce your emissions significantly. You can also offset your air travel carbon emissions by investingin renewable energy projects.
42. Encourage your school or business to reduce emissions
You can extend your positive influence on global warming well beyond your home by actively encouraging other to take action.
43. Join the virtual march
The Stop Global Warming Virtual March is a non-political effort to bring people concerned about global warming together in one place. Add your voice to the hundreds of thousands of other people urging action on this issue.
44. Encourage the switch to renewable energy
Successfully combating global warming requires a national transition to renewable energy sources such as solar, wind and biomass. These technologies are ready to be deployed more widely but there are regulatory barriers impeding them. U.S. citizens, take action to break down those barriers with Vote Solar.
45. Protect and conserve forest worldwide
Forests play a critial role in global warming: they store carbon. When forests are burned or cut down, their stored carbon is release into the atmosphere – deforestation now accounts for about 20% of carbon dioxide emissions each year. Conservation International has more information on saving forests from global warming.
46. Consider the impact of your investments
If you invest your money, you should consider the impact that your investments and savings will have on global warming. Check out SocialInvest and Ceres to can learn more about how to ensure your money is being invested in companies, products and projects that address issues related to climate change.
47. Make your city cool
Cities and states around the country have taken action to stop global warming by passing innovative transportation and energy saving legislation. If you’re in the U.S., join the cool cities list.
48. Tell Congress to act
The McCain Lieberman Climate Stewardship and Innovation Act would set a firm limit on carbon dioxide emissions and then use free market incentives to lower costs, promote efficiency and spur innovation. Tell your representative to support it.
49. Make sure your voice is heard!
Americans must have a stronger commitment from their government in order to stop global warming and implement solutions and such a commitment won’t come without a dramatic increase in citizen lobbying for new laws with teeth. Get the facts about U.S. politicians and candidates at Project Vote Smart and The League of Conservation Voters. Make sure your voice is heard by voting!
50. Share this list!
Send this page via e-mail to your friends! Spread this list worldwide and help people doing their part: the more people you will manage to enlighten, the greater YOUR help to save the planet will be (but please take action on first person too)!

Reboisasi Hutan Mangrove sebagai salah satu upaya untuk mengurangi global warming


Kerusakan hutan tropis yang terjadi di berbagai negara di dunia semakin meningkat dari tahun ke tahun dan bahkan dalam dua atau tiga decade yang akan datang diperkirakan akan mengalami ancaman kepunahan yang disebabkan karena penebangan liar (illegal logging), pengalihan fungsi lahan, eksploitasi hutan yang berlebihan, dan lain-lain. Sehingga pada awal tahun 1990-an para ahli lingkungan dari seluruh dunia mengadakan pertemuan di Rio de Jenero, Brasil yang pada intinya membahas mengenai langkah dan strategi yang harus dilakukan untuk melestarikan alam termasuk juga upaya mengurangi laju kerusakan atau penyelamatan hutan tropis tersebut.

Di Indonesia, laju kerusakan hutan mencapai 2,8 juta hektar per tahun dari total luas hutan yaitu seluas 120 juta hektar yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Dari total luas hutan tersebut, sekitar 57 sampai 60 juta hektar sudah mengalami degradasi dan kerusakan sehingga sekarang ini Indonesia hanya memiliki hutan yang dalam keadaan baik kira-kira seluas 50% dari total luas yang ada. Kondisi semacam ini apabila tidak disikapi dengan arif dan segera dilakukan upaya-upaya penyelamatan oleh pemerintah dan seluruh warga negara Indonesia maka dalam jangka waktu dua dasawarsa Indonesia akan sudah tidak memiliki hutan lagi (Mangrove Information Center, 2006).

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki hutan mangrove terluas di dunia mencapai 25% dari total luas hutan mangrove di seluruh dunia (18 juta hektar) yaitu seluas 4.5 juta hektar atau sebanyak 3,8 % dari total luas hutan di Indonesia secara keseluruhan. Sedikitnya luas hutan mangrove ini mengakibatkan perhatian Pemerintah Indonesia terhadap hutan mangrove sangat sedikit juga, dibandingkan dengan hutan darat. Kondisi hutan mangrove juga mengalami kerusakan yang hampir sama dengan keadaan hutan-hutan lainnya di Indonesia (Mangrove Information Center, 2006).

Penebangan hutan baik hutan darat maupun hutan mangrove secara berlebihan tidak hanya mengakibatkan berkurangnnya daerah resapan air, abrasi, dan bencana alam seperti erosi dan banjir tetapi juga mengakibatkan hilangnya pusat sirkulasi dan pembentukan gas karbon dioksida (CO2) dan oksigen O2 yang diperlukan manusia untuk kelangsungan hidupnya.
Kebanyakan orang (khususnya para pengusaha yang memperjualbelikan hasil kayu hutan, investor yang mengembangkan usahanya dengan menebang hutan dan digantikan dengan tanaman lainnya seperti kelapa sawit atau menggantinya denganusaha lain seperti tambak, dan oknum pejabat yang mengeluarkan ijin untuk penebangan kayu di hutan) menutup mata dan sama sekali tidak merasa bersalah dan berdosa terhadap bencana-bencana alam yang sudah, sedang dan akan terjadi sehubungan dengan kegiatan yang mereka lakukan. Miskinnya keperdulian dan kesadaran terhadap lingkungan bagi orang-orang tersebut harus ditingkatkan secara khusus di era yang sedang gencar-gencar membicarakan tentang global warming karena model pendidikan lingkungan yang biasanya dilakukan sudah tidak mampu lagi untuk menyadarkan manusia-manusia serakah tersebut yang cendrung mengkorbankan kepentingan orang banyak demi kepentingan pribadi dan keluarganya. Dapat diyakini bahwa orang tersebut memiliki kontribusi yang banyak terhadap global warming yang terjadi sekarang ini sehingga mereka sepantasnya mendapatkan ganjaran yang setimpat atas perbuatannya. Berani dan mampukah aparat penegak hukum di Indonesia untuk menindak tegas para oknum ini demi keselamatan dan keberlangsungan alam serta kepentingan dan kelangsungan hidup manusia di Indonesia dan dunia?

Fakta kerusakan hutan khususnya mangrove dapat dilihat dengan jelas di Bali. Pembabatan hutan mangrove secara besar-besaran mulai dari Desa Pesanggaran sampai dengan Desa Pemogan (perbatasan antara Kota Denpasar dan Kabupaten Badung) yang dilakukan sebelum tahun 1990an yang dilakukan oleh investor yang bergerak dalam bidang usaha tambak udang telah mengakibatkan berkurangnya luas area hutan mangrove secara drastis di wilayah tersebut. Pada awal perkembangannya tambak-tambak udang tersebut memang menguntungkan dan mampu meningkatkan perekonomian masyarakt lokal. Tetapi, setelah beberapa tahun beroperasi, tambak-tambak tersebut mulai mengalami kerugian sehingga mengakibatkan kebangkrutan yang berujung pada penutupan usaha pertambakkan.
Hengkangnya para investor tambak udang tersebut meninggalkan bekas dan luka yang mendalam dan berkepanjangan bagi lingkungan di tempat tersebut sampai sekarang. Pohon mangrovepun tidak bisa tumbuh lagi khususnya ditempat-tempat pemberian makanan udang karena kerasnya bahan kimia yang dipakai untuk membersarkan udang secara instant. Sedangkan investor-investor tersebut sudah menghilang entah kemana?

Menyikapi fenomena tersebut, Pemerintah Indonesia melalui Departemen Kehutanan mengeluarkan beberapa kebijakan (policy) yang diharapkan mampu menyelamatkan kekayaan alam berupa hutan tropis yang tersebar di seluruh penjuru nusantara. Salah satu kebijakannya adalah tentang upaya penyelamatan hutan mangrove yang selanjutnya pada tahun 1992 dibentuk Pusat Informasi Mangrove (Mangrove Information Center).

Mangrove Information Center (MIC) merupakan proyek kerjasama antara Pemerintah Indonesia melalui Proyek Pengembangan Pengelolaan Hutan Mangrove Lestari dan Pemerintah Jepang melalui Lembaga Kerjasama Internasional Pemerintah Jepang melalui Japan International Corporation Agency (JICA).

Proyek kerjasama ini terdiri dari beberapa tahapan. Tahap pertama dimulai pada tahun 1992 dan berakhir tahun 1997. Pada tahapan ini, Pemerintah Jepang mengirim team untuk melakukan identifikasi hal-hal apa saja yang dibutuhkan dan dilakukan. Dari hasil identifikasi ini, dibentukalan team bersama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jepang dan selanjutnya sepakat untuk membangun Proyek Pengelolaan Hutan Mangrove Lestari. Proyek ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengekplorasi teknik-teknik reboisasi yang bisa dilakukan untuk pemulihan (recovery) kondisi hutan mangrove yang sudah mengalami kerusakan. Teknik yang ditemukan adalah tentang bagaimana cara persemaian bibit dan penanaman mangrove. Selain itu, diterbitkan juga buku panduan penanaman mangrove. Hasil yang dicapai pada tahap ini adalah penentuan model pengelolaan hutan mangrove lestari, penerbitan beberapa buku seperti; buku panduan (guide book) persemaian bibit dan penanaman mangrove, buku-buku yang berkaitan dengan mangrove, dan reboisasi atau penanaman mangrove seluas 253 hektar di kawasan Taman Hutan Raya (TAHURA).

Usaha reboisasi hutan mangrove yang telah dilakukan oleh The Mangrove Information Center memiliki arti yang sangat penting bagi masyarakat di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung karena persediaan untuk konsumsi oksigen sudah tersedia di tempat ini dan meningkatkan rasa aman dari bencana tsunami bagi masyarakat yang berdekatan dengan hutan mangrove tersebut. Selain itu, kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya pelestarian hutan mangrove semakin meningkat. Ini dibuktikan dengan semakin banyaknya sekolah-sekolah (dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi) dan industri pariwisata dengan secara sukarela untuk ikut serta menanam pohon mangrove di beberapa tempat seperti di kawasan konservasi The Mangrove Information Center dan Pulau Serangan yang bibit-bibit pohon mangrovenya disediakan oleh pihak The Mangrove Information Center. Usaha lain yang dilakukan oleh The Mangrove Information Center untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat tentang pentingnya pelestarian lingkungan adalah dengan membuka kegiatan wisata alam (ecotourism) sehingga masyarakat dapat melihat, menikmati dan berinteraksi dengan lingkungan secara langsung di kawasan hutan mangrove tersebut.